RSS

Kemenangan Tamkin di dapat dari kumpulan kemenangan Nikayah

27 Agu

daulah

 

Katanya Mujahidin selalu mendapatkan kemenangan di front-front Jihad? Mana buktinya? Koq malahan sampai sekarang kita masih tertindas!!” ujar salah seorang Ikhwah, pesimis dan tidak sabaran. Yang lebih tidak mengenakkan lagi, jika ia berkata, “Sudahlah gag usah jihad-jihad! Omong kosong jihad adalah solusi. Tuh lihat, kita malah dituduh teroris!”

Sesungguhnya, kemenangan yang didapat tanpa peluh pengorbanan tak akan bertahan lama. Lantaran sang Pemenang belum pernah merasakan pahit getirnya perjuangan. Itulah penegasan yang ingin disampaikan oleh Syaikh Abu Qotadah al Filasthiniy dalam salah satu sub-judul di kitab al Jihad wal Ijtihad.

Dengan untaian kata yang dirangkai dengan sangat “ciamik”, beliau jabarkan penjelasan ringkas, bahwa kemenangan yang datang mendadak hanya ada dalam lamunan dan mimpi. Kemenangan besar justru datang dari usaha-usaha yang boleh jadi di anggap sebagai sesuatu yang remeh. Kemenangan besar tidaklah pantas diberikan pada kaum yang belum diuji kesabarannya dalam Jihad.

Benar begitu bukan? Apakah layak kemenangan dan kepemimpinan diberikan pada seseorang yang dalam hidupnya belum pernah sekalipun diasah dalam perihnya ujian? Alih-alih ia berani melawan ketika musuh menghantam, tapi ia justru kecut nyali dan kabur dari pertempuran.

Kekuatan Nikayah Menuju Tamkin (Kemenangan)

Haruslah kita pahami bahwa kemenangan besar itu merupakan kumpulan dari sederet kemenangan-kemenangan kecil. Tak mungkin suatu kemenangan dan kekalahan terjadi dalam sekali ledakan lagi mendadak, mengejutkan pihak yang menang ataupun yang kalah.

Oleh karena kejayaan besar yang tidak diawali dengan kemenangan-kemenangan kecil sebelumnya, hanyalah ada dalam pikiran para Syaikh dan para pemimpin kita. Sesungguhnya dalam setiap perkataan mereka, mereka mengusung fikrah/wacana “Menyusun kekuatan pemukul yang bisa disiapkan secara utuh dan lengkap serta jauh dari pengamatan lawan.”

Dengan serangan tiba-tiba dan mengejutkan ini, kita bisa mengalahkan lawan. Dan dengan cara ini kita bisa menghindari jatuhnya banyak korban, baik darah yang akan tumpah maupun jiwa yang akan melayang. Sementara syaikh-syaikh kita, sering mendengang-dengungkan fikroh ini. Di bawah panduannya, mereka menarik diri dari konfrontasi (dengan kekafiran) di bawah syi`ar tarbiyah dan i`dad.

Fikroh ini, mendapat reaksi pro dan kontra dalam diri seseorang, oleh karena ia kelihatan bagus sekali, elok sekali dan seindah bunga mawar. Kendati demikian ia sangat rapuh.

Adapun keadaannya yang kelihatan elok dan seindah bunga mawar, maka bagaimana tidak kelihatan demikian, kalau ia menawarkan kemenangan kepada orang-orang Islam berupa kemuliaan dan kekuasaan di atas talam bunga mawar. Kemudian bagaimana tak seindah bunga mawar, kalau ia adalah ilusi bikinan para pemimpi. Impian itu, ketika bercampur dengan kenyataan dalam benak pikiran seseorang, maka ia tidak bisa didebat dengan bantahan orang-orang berakal dan orang-orang pandai.

Sesungguhnya kita bermimpi terlampau amat tinggi untuk dapat menyusun kekuatan guna mewujudkan Tamkin (kekuasaan) tanpa melalui Syaukah Nikaayah (kekuatan yang memaksa dan mengalahkan).

Syaukah Nikaayah adalah kekuatan yang terjadi di dalamnya (Jika kalian menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula, sebagaimana kalian menderita kesakitan) QS an Nisaa` 104; dan terjadi pula di dalamnya (Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan dibunuh) QS at Taubah 111.

Fikroh ini (yaitu meraih kemenangan dengan sekali pukul), di samping tak mungkin terjadi, maka tak dapat diragukan lagi bahwa ia akan memunculkan fiqh yang tidak lurus dan hukum-hukum yang tidak benar. Dan tiadalah kita mendengar fiqh dari syaikh-syaikh kita tentang bolehnya ikut dalam sistem multi-partai (demokrasi), bolehnya melakukan rotasi kekuasaan, tidak bolehnya melakukan jihad ofensif, dan bolehnya mengangkat orang-orang kafir dalam jabatan-jabatan politik, militer dan kehakiman di Negara Islam, melainkan disebabkan oleh impian rusak ini yang timbul karena dyspepsia (salah cerna). Faktor penyebabnya adalah tercampur aduknya pemikiran-pemikiran yang tidak sejenis.

Adapun penjelasannya ialah:

Sesungguhnya realitas kekalahan yang menimpa kita disebabkan oleh karena faktor-faktor bangunan Syaithoni di dalam umatnya, yang telah dipenuhi dengan kejahatan di segenap sisi-sisinya dan telah menimpakan kegagalan terhadap cita-cita Islam. Lalu ketika datang seorang Syaikh untuk menangani realitas ini dengan pola pemikiran yang lebih banyak menonjolkan hukum-hukum fiqh, maka sesungguhnya cara penanganan seperti ini akan membuat dia melepaskan diri dari banyak pendapat-pendapat keras golongan salaf (yang radikal –demikian ia menyebutnya) kepada pendapat-pendapat lunak golongan khalaf (yang moderat—demikian ia menyebutnya).

Itu karena ia tidak dapat mewujudkan tamkin tanpa menyiapkan area wilayah yang tepat untuknya. Sesungguhnya, penyiapan ini tidak akan terjadi kecuali melalui Syaukah Nikaayah.

Oleh karena, ketika kita sampai pada Tamkin melalui proses Nikaayah, berarti kita –berkah karunia Allah ta`ala— telah membersihkan jalan dari seluruh kotoran-kotoran dan sampah-sampahnya (bukan hanya seluruh kotoran dan sampah, bahkan pentolan-pentolannya sekaligus Insya Allah ta`ala) dengan Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang.

Kebenaran akan tumbuh mengakar dan bertambah kuat di dalam diri kita, dan akan lenyap bau-bau busuk dari berbagai ide pemikiran yang rusak. Dan akan berurat berakar rasa benci kita terhadap kebatilan dan rasa benci kebatilan terhadap diri kita.

Dengan Syaukah Nikaayah, kita akan memetik buah-buah yang telah tiba masa petiknya.

Dan kita tidak akan mau (sama sekali) untuk berdebat dengan seorang sophis (yang pandai memutar balikkan kata), yang tersebar dari mulutnya bau nafsu dan kemusyrikan. Dan kita tidak mau (selamanya) untuk berdiskusi, di mana lawan-lawan kita menampakkan senyuman pada kita sehingga kita menaruh persangkaan baik kepada mereka, lalu persangkaan baik ini mendorong kita untuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang Allah tidak menurunkan hujjah atasnya.

Dan kita tidak akan mau (selagi kita menjalankan Syaukah Nikaayah) untuk melakukan koalisi-koalisi syirik dan batil.

Melalui Syaukah Nikaayah, Allah mengambil sebagian di antara kita sebagai syuhada`, sehingga naiklah lingkaran jama`ah mujahid ke dalam barisan kebenaran, kecintaan kepada Allah dan kepada Rasul serta pengingkaran mereka terhadap orang-orang musyrik.

Melalui Syaukah Nikaayah, kita belajar untuk tidak jijik dan tidak takut pada darah, kita belajar memupuk keahlian menyembelih dan keahlian menyerang benteng-benteng musuh. Melalui Syaukah Nikaayah, kita belajar bersabar atas hilangnya orang-orang yang kita cintai. Dan kita digembleng untuk mengorbankan nyawa demi membela agama ini.

Melalui Syaukah Nikaayah, kita membersihkan diri dan menggembleng mental kita. Melalui Syaukah Nikaayah kita menyiapkan orang-orang yang masih tersisa di antara kita untuk menduduki posisi-posisi kepemimpinan.

Jika kita sampai pada Tamkin melalui Syaukah Nikaayah, maka kita sekali-kali tak akan dapat dipaksa untuk memaklumatkan perang terhadap tetangga-tetangga negeri kita, oleh karena kita selalu berada dalam kondisi perang yang sesungguhnya, jadi tak perlu lagi maklumat perang di dalamnya.

Jika kita sampai pada Tamkin melalui Syaukah Nikaayah, maka sekali-kali kita tidak akan bisa dipaksa menghormati gagasan dan pendapat mengenai Ta`addud as Siyaasiyah (pluralitas politik) ataupun partai-partai lain, oleh karena ia sudah tak ada lagi wujudnya. Namun, kita telah menguburnya dengan debu atau kita ceburkan ia ke dalam sumur Badar.

Apabila kita sampai pada Tamkin melalui Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang, maka sekali-kali figur pemimpin kita tidak akan pernah diduduki oleh lelaki pengecut, pengkhianat ataupun antek kaki tangan musuh. Oleh karena pemimpin pengecut, pengkhianat dan antek kaki tangan musuh adalah pemimpin yang datang pada kita dari kegelapan, kita belum pernah mengujinya pun dia belum pernah menguji kita. Yakni, dia datang pada kita dari balik kantor yang empuk bukan dari balik kobaran api peperangan dan pengorbanan.

Sampai pada Tamkin melalui Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang, tidaklah menjadikan cita-cita kita adalah membuat senang manusia dengan memberikan jaminan tempat tinggal, roti dan lapangan kerja untuk mereka. Kita tak perlu mencari keridhaan mereka terhadap siapa yang akan memerintah dan atau dengan apa ia memerintah.

Yang akan memerintah mereka adalah pemimpin kita, baik mereka suka ataupun tidak. Kita akan memerintah mereka dengan Islam, dan siapa yang mengangkat kepalanya (menentang), maka akan kita tebas lehernya, oleh karena Tamkin sampai kepada kita adalah dengan karunia Allah saja. Kita tak akan ambil pusing terhadap apapun kecuali hanya keridhoan Allah belaka. Kita kerjakan apa yang Dia perintahkan dan kita tinggalkan apa yang Dia larang, meskipun manusia tidak menyukainya.

Rabb kita adalah Sesembahan kita dan kecintaan kita, Yang memberi pertolongan pada kita dari kelemahan, memberi pakaian kita dari ketertelanjangan, memberikan makan kita ketika kemiskinan mendera. Kita rebut senjata kita dari tangan musuh kita. Dan Kita tak akan membuat kesepakatan-kesepakatan dengan Timur dan Barat apabila kesepakatan itu harus mengorbankan dan melepaskan prinsip-prinsip kita. Dan kita tidak memperoleh kekuasaan dengan rekomendasi yang datang dari Gedung Putih atau Gedung Hitam, tapi dengan peribadatan kita kepada Allah saja dan dengan baro`ah kita terhadap penguasa-penguasa thaghut di muka dunia.

[arkan]/shoutussalam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 27, 2013 in fiqih, tokoh jihadi

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s