RSS

Nikah

30 Nov

 Kitab Nikah

nikah

»  Perkawinan dan adalah salah satu sunatullah ta’ala pada ciptaan-Nya, dan ia adalah umum lagi mutlak di dunia hewan dan dunia tumbuhan. Adapun manusia, Allah menjadikannya seperti yang lainnya dari dunia-dunia bebas pelampiasan instingnya, namun dia menetapkan baginya aturan yang sejalan dengan kepemimpinannya, dan yang menjaga kehormatannya dan yang menjaga kesuciannya, dan itu adalah dengan nikah syar’iy yang menjadikan hubungan laki-laki dengan wanita hubungan yang mulia lagi berdiri di atas ridla, ijab dan kabul, serta di atas keharmonisan dan kasih sayang. Dan dengan hal itu Dia memberikan pemuasan insting (sexual) dengan cara yang bersih demi enjaga keturunan dan kepunahan dan melindungi wanita dari dijadikan barang pemuas bagi setiap orang.

»  Keutamaan Pernikahan

»  Nikah adalah termasuk di antara tuntutan para rasul yang paling ditekankan, dan termasuk tuntunan yang paling dianjurkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”(QS. Ar Rum [30]: 21)

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu). (QS. Ar Ra’du [13]: 38)

3. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu berkata:

كنا مع النبي × شباباً لا نجد شيئاً فقال لنا رسول الله ×: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإنَّـهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْـهِ بِالصَّوْمِ فَإنَّـهُ لَـهُ وِجَاءٌ». متفق عليه

“Kami bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah para pemuda yang tidak mendapatkan sesuatupun, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata kepada kami: “Wahai para pemuda, barangsiapa mampu (biaya) nikah maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya nikah itu lebih menjaga pandangan dan lebih memelihara kemaluan, dan barangsiapa tidak mampu maka hendaklah ia shaum, karena seswungguhnya shaum itu pengekang baginya” (Muttafaq’alaih)[1].

» Nikah adalah akad syar’iy yang menyebabkan halalnya hubungan badan antara pasangan suami isteri.

»  Hikmah pensyari’atan nikah:

  1. Pernikahan adalah lingkungan yang baik yang menghantarkan kepada pengikatan jalinan kekeluargaan, perlindungan jiwa dan penjagaannya dari hal yang haram, dan ia itu keteduhan dan ketenangan karena apa yang terbukti dengan sebabnya berupa keharmonisan, kasih sayang dan saling pengertian di antara suami isteri.
  2. Pernikahan adalah cara terbaik untuk melahirkan anak-anak dan memperbanyak keturunan disertai menjaga garis nasab yang dengannya terealisasi sikap saling mengenal, saling menolong, saling membantu dan saling memperhatikan.
  3. Pernikahan adalah jalan terbaik untuk memuaskan insting seksual dan menyalurkan hasrat disertai selamat dari berbagai penyakit.
  4. Pernikahan adalah terwujud dengannya pembentukan keluarga yang baik yang merupakan bibit masyarakat, dimana suami bekerja keras, berusaha dan memberi nafkah serta mengayomi, sedangkan isteri mendidik anak-anak, mengatur urusan rumah dan menata kehidupan, dan dengan ini kondisi masyarakat menjadi baik.
  5. Dan di dalam pernikahan juga terdapat pemuasan bagi insting kebapakan dan keibuan yang berkembang dengan keberadaan anak-anak

»  Hukum Nikah

  1. Nikah adalah sunnah bagi yang memiliki syahwat dan tidak khawatir zina, karena nikah memiliki banyak maslahat bagi anak laki-laki, wanita, dan umat seluruhnya.
  2. Nikah wajib atas orang yang mengkhawatirkan atas dirinya jatuh ke dalam zina bila tidak menikah dan selayaknya bagi suami isteri meniatkan dengan nikahnya itu penjagaan kehormatan diri mereka serta melindunginya dari keterjatuhan dalam apa yang diharamkan Allah ‘Azza Wa Jalla, sehingga hubungan badan yang mereka lakukan dicatat sebagai shadaqah bagi mereka berdua.

»  Memilih Isteri

Di sunnahkan bagi orang yang ingin menikah agar menikahi wanita yang menyenangkan lagi (bakal) banyak melahirkan, yang masih perawan, yang beragama, lagi menjaga kehormatan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ×: «تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَـعٍ: لِـمَالِـهَا، وَلِـحَسَبِـهَا، وَجَـمَالِـهَا، وَلِدِينِـهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukan (nasab), kecantikannya, dan karena diennya. Maka ambilah yang beragama maka tentulah kamu beruntung”.[2]

»  Wanita yang paling baik

Wanita yang paling baik adalah wanita shalihah yang menyenangkan suami bila dia memandang kepadanya, mentaatinya bila dia menyuruhnya, tidak menyelisihinya dalam dirinya dan hartanya dalam apa yang tidak disukainya, mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya serta menjauhi apa yang dilarangnya.

عن عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي × قال: «الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِـحَةُ». أخرجه مسلم

“Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Amr radliyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”.[3]

»  Hikmah poligami

1. Allah ‘Azza Wa Jalla membolehkan bagi laki-laki menikah empat wanita, tidak boleh melebihinya dengan syarat dia punya kemampuan badan, kemampuan finansial serta kemapuan adil di antara mereka, karena di dalam hal itu terdapat banyak maslahat berupa menjaga kemaluannya, menjaga kehormatan wanita-wanita yang dinikahinya, ihsan kepada mereka, dan memperbanyak keturunan yang dengannya ummat menjadi banyak dan dengannya banyak orang beribadah kepada Allah saja. Dan bila dia takut tidak bisa berbuat adil maka dia tidak boleh menikah menikah kecuali satu saja dan budak yang dimilikinya, sedangkan budak itu tidak wajib atas si laki-laki (pemiliknya) untuk berbagi waktu untuk berbagi waktu untuknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa’ [4]: 3)

2.   Dan tatkala Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana membolehkan poligami, Dia melarang hal itu dilakukan di antara kerabat yang diikat dengan nasab yang sangat dekat, seperti memadu antara dua bersaudari dan memadu antara wanita saudari bapak atau ibunya karena hal itu bisa mendatangkan pemusuhan di antara kerabat, karena rasa cemburu di antara isteri-isteri yang dimadu itu sangat dahsyat.

»  Meminang wanita

Dianjurkan bagi orang yang ingin meminang atau khitbah seorang wanita untuk melihat darinya apa yang menarik dia untuk menikahinya tanpa khalwat, dan ia tidak boleh menjabat tangannya atau menyentuh badannya dan dia tidak boleh menceritakan kepada orang lain apa yang dia lihat darinya. Dan wanita juga boleh melihat laki-laki yang meminangnya, dan bila si laki-laki tidak bisa melakukannya, maka dia mengirim seorang wanita yang terpercaya untuk melihat wanita pinangannya terus dia menyapmaikan sifat-sifatnya kepada dia

»  Wanita bila ditinggal wafat suaminya kemudian dia menikah lagi, maka dia bagi suaminya yang terakhir di hari kiamat.

»  Haram saling tukar foto di dalam khitbah dan yang lainnya, dan haram bagi seorang pria meminang wanita pinangan saudaranya sehingga dia meninggalkannya atau mengizinkan baginya atau yang pertama ditolak, dan bila dia meminang wanita pinangan pria yang pertama atau terus menikahinya (maka akadnya sah namun dia berdosa dan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam).

» Wajib atas wali si wanita untuk mencari laki-laki yang shaleh dan tidak mengapa seseorang menawarkan puterinya atau saudarinya kepada orang ahli kebaikan dan ketaatan dengan tujuan nikah.

» Haram tashrih atau terus terang dalam meminang wanita yang sedang menjalani ‘iddah dari kematian suaminya dan wanita di talaq ba’in, dan boleh ta’ridl (sindir sampir) seperti mengatakan: “sesungguhnya saya menyukai orang semacam kamu”, dan ia menjawabnya: “kamu tidak patut tidak disukai” dan ucapan seperti itu.

» Boleh tashrih dan ta’ridl meminang wanita yang sedang ‘iddah bagi suaminya yang mentalaknya dengan talaq ba’in seperti raj’iyyah[4], dan haram tashrih dan ta’ridl dari selain suami untuk wanita yang sedang menjalani ‘iddah dalam talaq raj’iy.

»  Rukun akad nikah ada tiga:

  1. Keberadaan calon suami isteri yang kosong dari penghalang-penghalang yang menghalangi keabsahan nikah seperti satu susuan, beda agama dan yang lainnya.
  2. Ada ijab, yaitu ungkapan yang muncul dari wali atau orang yang menggantikannya pada posisinya dengan mengatakan: “Saya kawinkan engkau…” atau “Saya nikahkan engkau…” atau “Saya pemilikan engkau kepada si fulanah…” dan ungkapan serupa itu.
  3. Ada qabul (penerimaan) yaitu uangkapan yang muncul dari suami atau wakilnya dengan mengatakan: “Saya terima nikah ini…” dan ucapan semacam itu

Dan bila sudah  terjadi ijab dan qabul maka terjadilah nikah itu secara sah.

»  Hukum meminta izin wanita dalam pernikahan:

Wali wajib meminta izin wanita yang mukallaf sebelum menikahkannya, baik dia itu gadis maupun sayyib (janda) dan tidak boleh bagi dia memaksanya menikah dengan orang yang tidak disukainya dan bila dia menjalinkan akad nikah terhadapnya sedangkan dia tidak ridla maka ia memiliki hak untuk membatalkan (fasakh) akad itu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي × قال: «لا تُنْكَحُ الأَيِّـمُ حَتَّى تُسْتَأْمَـرَ، وَلا تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ» قالوا: يا رسول الله وكيف إذنها؟ قال: «أَنْ تَسْكُتَ». متفق عليه

“Dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Janda tidak dinikahkan sehingga diminta perintahnya, dan gadis tidak dinikahkan sampai diminta izinnya”, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?”, beliau menjawab: “dia diam”. (Muttafaq’alaih)[5].

وعن خنساء بنت خدام الأنصارية رضي الله عنها: أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِـيَ ثَيِّـبٌ فَكَرِهَـتْ ذَلِـكَ فَأَتَـتْ رَسُـولَ الله × فَـرَدَّ نِكَاحَـهُ. أخرجه البخاري

Dari Khansa Binti Khadam Al Anshariyyah radliyallahu’anha, bahwa ayahnya menikahkannya sedang ia janda terus dia tidak menyukai hal itu, kemudian dia mendatangi Rasulullah, maka beliau mengembalikan pernikahannya”. (Muttafaq’alaih)[6]

»  Boleh bagi Ayah menikahkan puterinya yang di bawah umur 9 tahun dengan laki-laki sepadan (kufu’) dengannya walau tanpa izin dan ridla puterinya.

»  Haram atas pria memakai cincin mas yang disebut cincin pinangan, dimana disamping dia tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka dia juga haram secara syar’iy.

»  Khutbah nikah:

Orang yang akad, sebelum akad dilakukan dianjurkan menyampaikan khutbah hajat sebagaimana yang telah lalu dalam khutbah jum’at, dan ia diucapkan juga di dalam nikah dan yang lainnya: “innalhamdalillah nahmaduhu wa nasta’inuhu…” kemudian membaca ayat-ayat yang ada (di hadits) melakukan akad di antara mereka berdua dan mempersaksikan dua orang pria terhadap hal itu.

»  Hukum mengucapkan selamat terhadap pernikahan:

Dianjurkan tahni-ah (mengucapkan selamat): berdasarkan apa yang diriwayatkan Abu Hurairah radliyallahu’anhu, bahwa Nabishallallahu’anhu ‘alaihi wa sallam bila mengucapkan selamat, maka berkata:

«بَارَكَ الله لَكُمْ، وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ، وَجَـمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيرٍ». أخرجه أبو داود وابن ماجه

“Semoga Allah memberkati bagi kalian dan memberkati atas kalian serta mengumpulkan di antara kalian berdua di dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).[7]

» Boleh bagi orang yang telah akad berkumpul dengan isterinya, khalwat dengannya dan berhubungan badan dengannya karena ia adalah isterinya dan hal itu haram sebelum akad walau setelah khitbah.

»  Boleh melangsungkan akad nikah dengan wanita disaat dia sedang suci dan haidl, adapaun thalaq maka ia haram saat saat haidl dan boleh saat suci sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.

»  Syarat-syarat nikah:

  1. Menentukan pasangan calon suami isteri
  2. Ridla calon suami isteri
  3. Wali, maka tidak boleh menikahi wanita tanpa wali.

Dan wali itu disyaratkan; laki-laki merdeka, baligh, berakal, rasyid (mampu bertindak baik) dan disyaratkan kesaaan dalam agama. Dan penguasa boleh menikahkan wanita kafir yang tidak memiliki wali.

Dan wali adalah ayah si wanita, dan ia adalah yang paling berhak untuk menikahkannya, kemudian orang yang diwasiatinya dalam urusan nikah, kemudian kakeknya, terus anak laki-lakinya, terus saudaranya, terus saudara ayahnya (uwa atau paman dari pihak ayah), kemudian ashabah (kerabat laki-laki dari jalur laki-laki) yang paling dekat nasabnya, kemudian penguasa.

  1. Kesaksian terhadap akad nikah, maka ia tidak sah kecuali dengan dua saksi laki-laki yang adil dan mukallaf.
  2. Kosongnya calon suami isteri dari penghalang-penghalang (pernikahan), dimana tidak ada pada keduanya atau salah satunya suatu yang menghalangi pernikahan seperti nasab atau sebab seperti rada’ (susuan), beda agama dan serupa itu.

» Bila wali yang paling dekat menolak untuk menikahkan atau dia tidak layak atau tidak ada tempat dan tidak menungkin mendatanginya kecuali dengan susah payah, maka wali yang sesudahnya melangsungkan akad nikah.

» Nikah tanpa wali adalah rusak yang wajib difasakh (dibatalkan) pada hakim atau thalaq dari suami, dan bila ia menggaulinya dengan nikah yang rusak maka si wanita berhak mendapatkan mahar mitsl (standar) dengan sebab apa yang dia halalkan dari kealuannya.

» Kafa’ah (kesepadanan) yang dianggap antara suami isteri adalah dalam hal dien dan kemerdekaan, dimana bila si wali menikahkan wanita baik (‘afifah) dengan laki-laki yang bejat atau wanita yang merdeka dengan budak, maka nikahnya sah, namun si wanita boleh memilih antara melanjutkan nikah itu atau memfasakhnya.

»  Tujuan jima’

Tujuan jima’ itu ada tiga: menjaga keturunan, mengeluarkan air (mani) yang berbahaya bila terus di tahan dan melampiaskan hasrat seksual menggapai kepuasan dan kenikmatan. Dan yang terakhir ini menyendiri dan mencapai puncaknya di surga.

»  Apa yang dilakukan suami bila masuk kepada isterinya:

Di sunnahkan bagi pria bila masuk mendatangi isterinya untuk mencengkramainya, umpamanya dia memberikan kepadanya minuman seperti susu dan yang lainnya, dan dia meletakan tangan dikeningnya, dan dia menyebut nama Allah Ta’ala dan berdo’a dengan keberkahan, terus mengucapkan:

اللَّـهُـمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبلْتهَا عَلَيْـهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبلْتهَا عَلَيْـهِ». أخرجه أبو داود وابن ماجه

“Ya Allah, sesunguhnya hamba memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tabi’at yang telah ditetapkan di atasnya, dan hamba berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan tabi’at yang telah Engkau tetapkan di atasnya”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).[8]

» Disunnahkan membaca basmalah sebelum jima’ dan mengucapkan do’a:

«بِاسْمِ الله، اللَّـهُـمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإنَّـهُ إنْ يُـقَدَّرْ بَيْنَـهُـمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَـمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَداً». متفق عليه

“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkan kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”, karena sesungguhnya seandainya ditakdirkan di antara mereka berdua anak dalam hal itu tentulah syaitan tidak akan memudlaratkannya selama-lamnya” (Muttafaq’alaih).[9]

»  Boleh bagi suami menjima’ isterinya pada vaginanya dari arah yang dia sukai, dari depan atau dari belakangnya, dan haram menjima’nya pada duburnya.

» Bila orang menjimai isterinya, terus ingin megulang lagi maka disunnahkan baginya berwudlu seperti wudlu untuk shalat, karena hal itu lebih menambah semangat untuk mengulang jima’, dan mandi adalah lebih utama, dan kedua boleh mandi bersama-sama di satu tempat walaupun yang lain melihat aurat yang lainnya di kamar mandi yang ada di rumah mereka berdua.

Dari ‘Aisyah radliyallahu’anha berkata:

كان رسول الله × يغتسل في القدح، وهو الفرق وكنت أغتسل أنا وهو في الإناء الواحد، قال قتيبة: قال سفيان: والفرق ثلاثة آصع. متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mandi di wadah yaitu farq, dan saya pernah mandi bersama beliau di suatu wadah”. Qutaibah berkata: farq itu tiga sha’ (Muttafaq’alaih)[10].

» Dan dianjurkan keduanya tidak tidur dalam keadaan junub kecuali bila keduanya dalam keadaan berwudlu.

Wanita-Wanita Yang Haram Dinikahi

» Disyaratkan pada wanita yang ingin dinikahi seseorang itu, bahwa ia bukan wanita yang diharamkan terhadap laki-laki itu.

»  Wanita-wanita yang diharamkan itu ada dua macam

1. Yang diharamkan selama-lamanya, dan mereka ini ada tiga golongan:

  1. Yang diharamkan dengan sebab nasab, yaitu ibu dan nenek dan seterusnya ke atas. Puteri dan seterusnya ke bawah. Saudari, saudari ibu, saudari bapak, puteri saudara, dan puteri saudari.
  2. Yang diharamkan dengan sebab susuan, dimana haram dari sebab susuan apa yang haram dari sebab nasab, dan setiap wanita yang haram dari sebab nasab maka haram wanita serupa itu dari sebab susuan kecuali ibu saudaranya dan saudari puteranya dari susuan, maka ia tidak haram.
  3. Yang diharamkan dengan sebab mushaharah (hubungan pernikahan), yaitu: ibu dari isteri (mertua), anak isteri dari pria lain (anak tiri) bila si suami sudah menggauli ibu dari anak itu, isteri bapak (ibu tiri) dan menantu (isteri anak). Jadi yang diharamkan dengan sebab nasab adalah tujuh, dan yang diharamkan dengan sebab susuan ada tujuh juga seperti mereka. Serta yang diharamkan dengan sebab mushaharah adalah empat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. An Nisaa’ [4]: 23).

  • Sebab-sebab pengharaman yang selamanya adalah: nasab, susuan, dan mushaharah.
  • Batasan baku bagi wanita-wanita yang diharamkan dari sebab nasab: semua kerabat seorang pria dari nasab adalah haram atasnya kecuali saudari-saudari sepupunya (yaitu) puteri saudara bapak, puteri saudara bapak, puteri saudari ibu dan puteri saudari ibunya. Maka empat macam ini halal baginya.

2.  Wanita-wanita yang diharamkan sampai waktu tertentu, yaitu:

  1. Haram memadu antara dua saudari dan antara wanita dengan ‘ammah (saudari bapaknya) atau dengan khallaah (saudari ibu) dari nasab atau susuan. Dan bila dia (wanita) itu meningal dunia atau dicerai, maka yang lainnya halal.
  2. Mu’tadah (wanita yang sedang menjalani ‘iddah) sampai keluar dari ‘iddah.
  3. Wanita yang dicerainya dengan thalaq tiga sampai menikah dengan pria lain.
  4. Wanita yang sedang ihram sampai tahallul.
  5. Muslimah adalah haram atas orang kafir sampai dia masuk Islam.
  6. Wanita kafir non ahli kitab haram atas orang muslim sampai dia masuk Islam.
  7. Isteri orang atau sedang ‘iddah dari thalaq orang itu kecuali budak.
  8. Wanita yang berzina, haram atas pria yang berzina dengannya dan atas pria lain sampai ia bertaubat dan habis masa ‘iddahnya.

» Bila budak wanita menikah tanpa izin tuannya maka dia itu berzina, yang wajib dipisahkan di antara keduanya dan ditegakkan had terhadapnya.

» Haram atas pria menikahi puterinya dari hasil zina dan haram atas ibu menikah dengan puteranya dari hasil zina.

» Budak tidak boleh menikahi wanita yang menjadi tuannya dan tuan tidak boleh menikahi budak wanitanya, karena dia memiliki budak wanita itu dengan milkul yamien (akad perbudakan). Wanita yang haram digauli dengan akad maka haram digauli dengan akad perbudakan, kecuali budak ahli kitab, maka haram dinikahi dan boleh digauli dengan milkul yamien. Dan tidak boleh menggauli wanita dalam syari’at ini kecuali dengan nikah atau milkul yamin.

» Ummu walad adalah budak yang hamil dari tuannya dan melahirkan baginya, boleh menggaulinya, memperkerjakannya dan menyewakannya sebagaiamana halnya budak, namun tidak boleh menjualnya, menghibahkannya dan mewakafkannya seperti wanita merdeka dan ia ‘iddah dengan satu kali haidl yang dengannya mengetahui kekosongan rahimmnya.

» Bila seorang wanita atau walinya mensyaratkan untuk tidak di madu atau tidak dikeluarkan dari rumahnya atau dari negerinya atau tambahan dalam maharnya dan hal serupa itu yang tidak bertentangan dengan akad, maka syarat itu sah, kemudian bila suami menyelisihinya maka si isteri berhak fasakh

» Bila si isteri mafduq (suami yang hilang) menikah, kemudian datang suami yang pertama sebelum suami yang ke dua menggaulinya maka dia itu milik yang pertama, dan bila datang setelah digauli maka dia boleh menngambilnya sebagai isteri dengan akad awal tanpa perlu thalaq suani yang kedua, dan dia boleh menggaulinya setelah si isteri selesaikan ‘iddahnya dan dia boleh merelakan si isteri untuk suami yang ke dua dan dia mengambil dari yang ke dua kadar mahar yang sudah dia berikan kepada si isteri.

» Bila suai seorang perempuan tidak shalat[11] maka dia tidak halal tetap bersama laki-laki itu dan haram atasnya menggaulinya karena meninggalkan shalat adalah kekafiran, sedangkan tidak ada penguasaan bagi orang kafir atas muslimah. Bila si isteri meninggalkan shalat maka wajib meninggalkan (firaq) dia bila dia tidak taubat kepada Allah Ta’ala karena dia itu kafir.

»  Bila suami isteri tidak shalat kedua-duanya sejak akad nikah, maka akadnya sah[12]. Adapun bila isteri shalat sejak akad sedangkan suami tidak shalat, atau isteri tidak shalat sedang suami shalat lalu keduanya menikah kemudian keduanya mendapat hidayah, maka yang wajib adalah memperbaharui akad nikah karena salah satunya saat akad adalah kafir.

» Menikahi wanita di masa ‘iddah saudarinya bila thalaqnya adalah thalaq raj’iy maka pernikahan itu adalah batal, dan bila ‘iddah itu dari thalaq ba’in maka pernikahan itu haram.

Syarat-Syarat Yang Rusak Di Dalam Nikah

»  Syarat-syarat di dalam nikah ada dua macam:

Pertama: syarat-syarat yang rusak yang membatalkan akad di antaranya:

  1. Nikah Syighar: yaitu seorang pria menikahkan puterinya atau saudarinya atau wanita yang mana perwalian terhadapnya ada pada dirinya dengan syarat si pria lain itu menikahkan dia kepada puterinya atau saudarinya atau yang lainnya. Pernikahan ini adalah rusak baik disebutkan mahar di dalamnya ataupun tidak. Bila pernikahan semacam ini terjadi maka masing-masing harus memperbaiki akad tanpa syarat yang lain itu, dan akad berlangsung dengan mahar baru, akad baru, wali dan dua saksi laki-laki yang adil. Dan untuk wanita yang satu lagi juga seperti itu dan tanpa butuh kepada thalaq.

    عن ابن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ الله × نَـهَى عَنِ الشِّغَارِ. متفق عليه

     “Dari Ibnu Umar radliyallahu’anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang dari syighar” (Muttafaq’alaih).[13]

  2. Nikah Muhalil, yaitu seorang pria yang menikahi wanita yang dithalaq tiga dengan syarat bahwa bila dia sudah menghalalkan wanita itu bagi suami yang pertama maka dia menthalaqnya atau niat menghalalkan dengan hatinya atau keduanya sepakat terhadapnya sebelum akad. Pernikahan ini adalah rusak dan haram, dan barangsiapa melakukannya maka dia terlaknat berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

«لَعَنَ الله المُـحَلِّلَ وَالمُـحَلَّلَ لَـهُ». أخرجه أبو داود والترمذي

  1. “Allah melaknat orang yang menghalalkan dan orang yang dihalalkan baginya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).[14]
  2. Nikah Mu’tah, yaitu seorang pria menjalin akad terhadap wanita (untuk) sehari atau sepekan atau sebulan atau setahun atau kurang dari itu atau lebih dan dia membayar mahar baginya kemudian bila masa waktu sudah habis maka dia meninggalkannya.

Pernikahan ini adalah rusak lagi tidak boleh karena membahayakan dan menjadikan si wanita sebagai barang dagangan yang berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dan membahayakan anak-anak juga dimana mereka tidak mendapatkan rumah yang di dalamnya mereka menetap dan dididik. Jadi pernikahan ini adalah pemuasan syahwat, bukan untuk keturunan dan pembinaan, dan ia pernah dihalalkan di awal Islam untuk tenggang waktu tertentu kemudian dia diharamkan selama-lamanya.

عن سبرة الجهني رضي الله عنه أن رسول الله × قال: «يَا أَيُّـهَا النَّاسُ إنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الاسْتِـمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإنَّ الله قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إلَى يَومِ القِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْـهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُـخَلِّ سَبِيْلَـهُ، وَلا تَأْخُذُوا مِـمَّا آتَيْتُـمُوهُنَّ شَيْئاً». أخرجه مسلم

Dari Sabrah Al Juhaniy radliyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Wahai manusia, sesunguhnya aku pernah mengizinkan untuk kalian dalam menikah mut’ah wanita, dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan itu sampai hari kiamat, maka barangsiapa ada padanya seseorang dari wanita itu maka hendaklah ia melepaskannya dan janganlah kalian mengambil sedikitpundari apa yang telah kalian berikan kepada mereka” (HR. Muslim)[15]

» Barangsiapa memiliki empat isteri kemudian dia melakukan akad terhadap yang kelima, maka akad terhadapnya adalah rusak, dan pernikahannya bathil yang wajib dihentikan.

» Haram menikahkan muslimah dengan non muslim[16], baik si pria itu dari ahli kitab maupun yang lainnya, karena muslimah itu lebih tinggi darinya dengan tauhidnya dan imannya. Jika pernikahan ini terjadi maka dia rusak dan haram dan wajib dihentikan karena tidak ada kekuasaan orang kafir terhadap muslim atau muslimah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman, sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun Dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al Baqarah [2]: 221)

Kedua: Syara-syarat yang rusak yang tidak membatalkan akad nikah, di antaranya:

  1. Bila suami di akad nikah mensyaratkan pengguguran suatu dari hak-hak wanita seperti ia mensyaratkan tidak ada mahar bagi si isteri atau tidak ada nafkah baginya atau memberi jatah giliran baginya lebih sedikit atau lebih banyak dari isteri lain atau si isteri mensyaratkan suami mencerai isteri tuanya, maka nikahnya sah dan syaratnya batal.
  2. Bila suami mensyaratkan isterinya itu muslimah kemudian ternyata kitabiyah (Nashrani atau Yahudi), atau dia mensyaratkannya perawan namun ternyata janda, atau mensyaratkan tidak ada aib yang nikah tidak difasakh dengannya seperti buta, bisu dan yang serupa itu kemudian nampak kebalikan dati hal itu, maka nikahnya sah dan dia berhak untuk fasakh (membatalkan) bila ia mau.
  3. Bila pria menikahi seorang wanita atas anggapan bahwa ia wanita merdeka kemudian dia itu ternyata budak, maka ia berhak memilih (antara melanjutkan dan membatalkannya) bila wanita itu termasuk halal baginya. Dan bila seorang wanita menikah dengan pria merdeka kemudian ternyata dia itu budak, maka dia (si wanita) berhak memilih antara melanjutkan atau mebatalkan.

Cacat-Cacat Dalam Pernikahan

»  Cacat-cacat dalam pernikahan itu ada dua macam:

  1. Cacat-cacat yang menghalangi jima’, dimana pada pria: dzakarnya terputus, terputus kedua testisnya dan impoten. Sedangkan pada wanita: rataq (tersumbat lubang vagina dengan daging), qarn (vagina tersumbat tulang yang menyerupai tanduk) dan af’al (semacam burut).
  2. Cacat-cacat yang tidak menghalangi sengama, namun ia membuat orang menjauh atau ia bisa menular pada laki-laki atau wanita, seperti penyakit shapak, gila, kusta, basur (wasir), nasur (luka yang tidak bisa sembuh), luka yang berair di dalam kemaluan dan yang serupa itu.

» Wanita yang mendapatkan suaminya terputus dzakarnya, atau tersisa baginya bagian dzakar yang tidak bisa menjima’ dengannya maka dia berhak untuk fasakh. Dan bila dia sudah mengetahui dan ridha dengannya sebelum akad atau ridla dengannya setelah dhukul (bermesraan dengan khalwat) maka gugur haknya dalam fasakh.

» Setiap cacat yang membuat pasangan seseorang menjauh darinya seperti penyakit sopak, bisu, cacat-cacat di kemaluan, luka-luka yang berair, gila, kusta, kencing terus di luar kontrol, dikebiri, TBC, bau mulut terus menerus, bau badan yang menyengat dan yang semacam itu, maka masing-masing dari suami isteri memiliki hak fasakh bila dia mau, dan barangsiapa ridla dengan hal itu dan dia melakukan akad nikah, maka dia tidak memiliki khiyar (pilihan untuk fasakh) dan bila cacat itu terjadi setelah akad nikah, maka pasangannya memiliki hak khiyar.

» Bila fasakh terjadi karena sebab salah satu cacat-cacat yang lalu dan yang serupa dengannya maka bila fasak ini terjadi sebelum dhukhul (hubungan badan), maka tidak ada mahar bagi si wanita, dan bila fasakh ini setelah dhukhul maka ia berhak mendapatkan mahar yang sudah disebutkan di saat akad dan si suami meminta ganti dari orang yang mengecohnya, dan tidak sah pernikahan khuntsa musykil (waria) yang belum jelas apa dia laki-laki atau wanita sebelum ada kejelasan statusnya.

»  Bila ternyata si suami mandul, maka isteri mempunyai hak khiyar karena wanita punya hak dalam anak. Impotent yaitu orang yang tidak mampu menjimai. Wanita yang mendapatkan suaminya impoten, maka si suami diberi tangguh satu tahun dari sejak pengaduannya. Bila dalam waktu ini dia bisa menjimai maka pernikahan diteruskan, dan bila tidak bisa maka si wanita memiliki hak fasakh, namun bila dia rela punya suami yang impotent sebelum dhukhul atau sesudahnya maka gugur hak khiyarnya.

Pernikahan orang-orang kafir

» Pernikahan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan yang lainnya statusnya adalah seperti pernikahan kaum muslimin dalam apa yang wajib dengannya berupa mahar, nafaqah, jatuhnya thalaq, dan yang lainnya dan haram atas mereka dari wanita apa yang haram atas kita.

» Orang-orang kafir di akui di atas pernikahan-pernikahan mereka yang rusak dengan dua syarat:

  1. Mereka meyakini sahnya pernikahan itu di dalam agama mereka.
  2. Mereka tidak mengadukan kepada kita, dan bila mereka mengadukan kepada kita maka kita putuskan terhadap mereka dengan apa yang telah Allah turunkan kepada kita.

» Sifat akad nikah orang-orang kafir;

Bila datang orang kafir kepada kita sebelum akad nikah di antara mereka, maka kita lakukan akad nikah menurut akad nikah kita dengan ijab, qabul, wali, dan dua saksi laki-laki yang adil. Dan bila datang kepada kita setelah akad nikah di antara mereka maka bila si wanita itu kosong dari penghalang-penghalang pernikahan, maka kita akui di atasnya, dan bila si wanita ada peghalang pernikahan maka kita pisahkan kepada mereka berdua.

» Mahar wanita kafir:

Bila ia sudah disebutkan baginya dan dia sudah mengambilnya maka mahar itu sudah sah miliknya, baik mahar itu shahih maupun rusak seperti khamr dan babi, namun bila dia itu rusak atau belum disebutkan baginya maka ia berhak mendapatkan mahar mitsl (standar wanita semacam dia) yang shahih.

» Bila suami isteri masuk Islam secara bersama-sama atau masuk Islam suami wanita kitabiyyah (Yahudi dan Nasrani) maka keduanya tetap di atas nikahnya.

»  Bila masuk Islam suami wanita non kitabiyyah sebelum dukhul maka nikahnya batal.

»  Bila wanita kafir masuk Islam sebelum suaminya yang kafir dukhul padanya, maka nikahnya batal karena muslimah tidak halal bagi pria kafir.

»  Status hukum bila salah satu suami isteri yang kafir masuk Islam:

Bila salah satu suami isteri yang kafir masuk Islam setelah dukhul maka pernikahan itu mauquf (digantungkan): bila laki-laki masuk Islam maka bila si wanita masuk Islam sebelum habis masa ‘iddahnya maka dia itu isterinya, dan bila si wanita masuk Islam dan masa ‘iddahnya sudah habis sedang si laki-laki belum masuk Islam juga, maka si wanita boleh menikah dengan orang lain dan bila dia mau maka dia menunggu si laki-laki kemudian bila si laki-laki tersebut masuk Islam maka dia itu isterinya tanpa perlu memperbaharui akad dan nikah, namun dia jangan memperkenankan si laki-laki menggaulinya sampai masuk Islam.

»  Status hukum pernikahan bila salah seorang suami isteri murtad:

Bila suami isteri atau salah satunya murtad dari Islam, bila itu terjadi sebelum dukhul maka pernikahannya batal, dan bila setelah dukhul maka urusan digantungkan kepada selesainya masa ‘iddah, bila yang murtad itu taubat di dalam masa ‘iddah itu maka mereka tetap di atas nikahnya, namun bila tidak taubat maka pernikahannya lepas begitu saja setelah habis masa ‘iddah sejak waktu murtad.

»  Bila suami masuk Islam, bila isterinya kitabiyyah maka pernikahannya tetap berlangsung, namun bila bukan kitabiyyah maka bila si wanita itu masuk Islam (maka ia isterinya tanpa akad baru) dan bila tidak masuk Islam maka ia meninggalkannya.

»  Bila orang kafir masuk Islam sedang ia memiliki lebih dari empat isteri dan mereka masuk Islam atau mereka itu kitabiyyah, maka dia memilih empat saja dan meningalkan yang lainnya.

»  Bila orang kafir masuk Islam sedang di sisinya ada dua isteri yang bersaudari maka ia memilih salah satunya, dan bila dia memadu antara wanita dengan saudari bapaknya atau saudari ibunya maka ia memilih salah satunya. Dan setiap orang yang masuk Islam maka berlaku padanya hukum-hukum Islam di dalam nikah dan yang lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran [3]: 85)

Mahar

» Islam telah mengangkat kedudukan wanita dan memberinya hak dalam kepemilikan, ia mengharuskan mahar baginya bila dia menikah, serta menjadikan mahar itu hak atas laki-laki seraya dia memuliakannya dengan mahar itu; sebagai penenang bagi perasaannya, tanda penghargaan akan kedudukannya dan pebgganti dari dia supaya bisa bersenggama dengannya, dimana si laki-laki menyenangkan jiwanya dan membuatnya rela dengan kepemimpinan laki-laki terhadapnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An Nisaa’ [4]: 4).

»  Mahar itu hak bagi wanita yang wajib dibayarkan kepadanya dengan sebab apa yang dia halalkan dari kemaluannya, dan tidak halal bagi seorangpun mengambil sedikipun darinya kecuali dengan ridlanya, dan khusus bagi ayahnya boleh mengambil dari maharnya apa yang tidak merugikan si wanita dan dia tidak membutuhkan kepadanya walau dia tidak mengizinkannya.

»  Ukuran mahar wanita

Disunnahkan meringankan mahar wanita dan mempermudahnya, dan sebaik-baiknya mahar adalah yang paling murah, dan besarnya mahar bisa menjadi sebab kebencian suami kepada isterinya, dan haram bila sampai pada batas berlebihan dan berbangga-banggaan dan membebani pundak suami dengan hutang dan meminta-minta.

عن أبي سلمة رضي الله عنه أنه سأل عائشة رضي الله عنها: كَمْ كَانَ صَدَاقُ رَسُولِ الله ×؟ قَالَتْ: كَانَ صَدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ أُوْقِيةً وَنَشّاً، قَالَتْ: أَتَدْرِي مَا النَّشُّ؟ قَالَ: قُلْتُ: لا. قَالَتْ: نِصْفُ أُوْقِيَّةٍ فَتِلْكَ خَـمْسُمِائَةِ دِرْهَـمٍ فَهَذَا صَدَاقُ رَسُولِ الله × لأَزْوَاجِهِ. أخرجه مسلم

Dari Abu Salamah radliyallahu’anhu bahwa ia betanya kepada ‘Aisyah radliyallahu’anha“Berapa mahar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ?”, ia menjawab: “Mahar beliau kepada isteri-isterinya adalah dua belas uqiyah dan nasysy”. Ia berkata: “Apa kamu mengetahui apa nasysy itu?”, dia menjawab: saya berkata: “Tidak tahu”, ia berkata: “Setengah uqiyah, jadi itu lima ratus dirham, maka ini mahar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bagi isteri-isterinya.” (HR Muslim).

»  Mahar isteri-isteri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah 500 dirham[17], sama dengan kira-kira 140 real Saudi, sedangkan mahar puteri-puterinya 400 dirham, sama dengan kira-kira 110 real Saudi. Dan bagi kita ada tauladan yang baik pada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

»  Setiap yang memiliki nilai harga adalah sah menjadi mahar walaupun sedikit, dan tidak ada batasan bagi jumlah maksimalnya, dan bila si pria itu orang susah maka maharnya boleh berupa manfaat seperti mengajari Al Qur’an atau tugas kerja dan yang serupa itu. Dan boleh seseorang memerdekakan budaknya dan menjadikan pemerdekaannya itu sebagai mahar dan boleh menangguhkannya.

» Dianjurkan menyegerakan pebayaran mahar, dan boleh menangguhkannya atau menyegerakannya sebagian dan menangguhkan sebagian yang lainnya. Dan bila mahar tidak disebutkan di dalam akad maka akad sah dan wajib mahar mitsl, dan bila keduanya saling merelakan walau terhadap jumlah kecil maka sah.

»  Bila seseorang menikahkan puterinya dengan mahal mitsl atau lebih kecil atau lebih besar maka sah, dan wanita memiliki maharnya dengan akad dan menguasai penuh dengan dukhul dan khalwat.

»  Bila suami meninggal setelah akad dan sebelum dukhul sedang dia belum menyebutkan mahar bagi si wanita, maka ia berhak mendapat mahar mitsl, wajib ‘iddah dan mendapatkan warisan.

»  Wajib mahar mitsl bagi wanita yang digauli dalam pernikahan yang bathil, seperti isteri ke lima, wanita yang sedang ‘iddah dan digauli dengan syubhat serta serupa itu.

»  Bila berselisih suami isteri dalam kadar mahar atau jenisnya maka yang dipegang adalah ucapan suami bersama sumpahnya, dan bila berselisih dalam serah terimanya maka yang dipegang adalah ucapan isteri selagi tidak ada bukti bagi salah seorang dari mereka berdua.

Walimah Perkawinan

»  Walimatul ‘Urs: adalah makanan perkawinan khusus bagi suami isteri.

»  Waktunya: Walimah itu saat akad atau sesudahnya atau saat dukhul atau sesudahnya sesuai adat dan kebiasaan manusia.

»  Hukumnya: walimatul ‘urs itu wajib atas suami, dan disunnahkan dengan seekor kambing atau lebih sesuai kondisi lapang dan susah, dan haram berlebihan di dalam walimah dan yang lainnya.

»  Disunnahkan mengundang orang yang shalih, baik yang faqir maupun yang kaya kepada walimah ini, dan menjadikan walimah tiga hari setelah dukhul, dan boleh dengan makanan halal apa saja, dan haram mengkhususkan undangan kepada orang-orang kaya saja tidak yang faqir.

»  Dianjurkan orang-orang kaya ikut serta dengan harta mereka dalam penyediaan waliatul ’urs.

»  Hukum memenuhi undangan walimatul ‘urs:

Wajib memenuhi undangan bila orang yang mengundang itu muslim, dan bila dia mengundangnya secara ta’yin (khusus), dan itu di hari pertama, dan ia tidak memiliki udzur, serta di sana tidak ada kemungkaran yang dia tidak mampu untuk merubahnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ×: «إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُـجِبْ، فَإنْ كَانَ صَائِماً فَلْيصلِّ، وَإنْ كَانَ مُفْطِراً فَلْيَطْعَمْ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Bila seseorang di antara kalian diundang maka hendaklah memenuhi undangan, bila shaum maka hendaklah ia berdo’a, dan bila tidak maka hendaklah dia makan”. (HR. Muslim)[18]

»  Apa yang diucapkan orang yang menghadiri walimah:

Dianjurkan orang yang menghadiri walimah dan memenuhi undangan agar mendo’akan bagi yang mengundangnya saat selesai (darinya) dengan do’a yang ada dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, di antaranya:

«اللَّـهُـمَّ بَارِكْ لَـهُـمْ فِيمَا رَزَقْتَـهُـمْ، وَاغْفِرْ لَـهُـمْ وَارْحَـمْهُـم». أخرجه مسلم

“Ya Allah, limpahkanlah barakah bagi mereka dalam apa yang Engkau karuniakan kepada mereka, ampuni bagi mereka dan rahmatilah mereka” (HR. Muslim).[19]

«اللَّـهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَأسْقِ مَنْ سَقَانِي». أخرجه مسلم

“Ya Allah, berilah makanan orang yang telah memberi saya makanan dan berilah minum orang yang telah memberi saya minum” (HR. Muslim)[20]

«أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الملائِكَة». أخرجه أبو داود وابن ماجه

“telah berbuka di tempat kalian orang-orang yang shaum, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian, dan para Malaikat telah mendo’akan kepada kalian” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).[21]

»  Dianjurkan bagi suami di keesokan hari setelah dia membangun rumah tangga dengan isterinya untuk mendatangi karib kerabatnya, membalasnya dengan yang serupa dimana mereka mengucapkan salam kepada mereka dan mendo’akan bagi mereka, dan bagi mereka juga dianjurkan membalasnya dengan yang serupa di mana mereka mengucapkan salam kepadanya dan mendoakannya.

»  Dianjurkan memakan dari makanan walimahan namun tidak wajib, dan barang siapa yang sedang shaum wajib, maka ia hendaklah hadir lalu mendo’akan dan pergi. Sedangkan orang yang shaumnya sunnah, bila di undang maka dianjurkan dia berbuka untuk menyenangkan hati saudaranya yang muslim dan membuat dia bahagia.

v  Bila seorang muslim datang kepada suatu kaum maka dia mengucapkan salam terhadap mereka dan dia duduk dimana majelis itu masih tersisa, dan tuan majelis itu di arah kiblat, dan bila ia hendak keluar maka dia mengucapkan salam.

v  Bila dia mengetahui bahwa di dalam walimah itu ada kemungkaran yang dia mampu merubahnya maka ia hadir dan merubahnya, namun bila tidak mampu maka dia tidak harus hadir. Bila diai hadir terus mengetahuinya maka dia melenyapkannya, namun bila tidak mampu maka dia pergi. Bila dia mengetahui ada kamungkaran namun tidak melihatnya atau tidak melihatnya atau tidak mendengarnya maka dia boleh memilih antara tinggal dengan pergi.

v  Apa yang dilakukan bila orang melihat wanita terus tertarik dengannya:

عن جابر رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله × رَأى امْرَأةً، فَأتَى امْرَأتَـهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَـمْعَسُ مَنِيئَةً لَـهَا، فَقَضَى حَاجَتَـهُ، ثُمَّ خَرَجَ إلَى أصْحَابِـهِ فَقَالَ: «إنَّ المَرْأةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإذَا أبْصَرَ أحَدُكُمُ امْرَأةً فَلْيَأْتِ أهْلَـهُ، فَإنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ». أخرجه مسلم

Dari Jabir radliyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melihat seorang wanita, maka beliau mendatangi isteri Zainab sedang ia yang sedang menggosok (menyamak) kulit binatang miliknya maka beliau menunaikan hajatnya, terus keluar menemui shahabatnya kemudian berkata: “Sesungguhnya wanita datang dan muncul dalam bentuk syaitan, maka bila seseorang di antara kalian melihat seorang wanita, maka hendaklah dia mendatangi isterinya, karena sesungguhnya hal itu melenyapkan apa yang ada di dalam dirinya” (HR. Muslim).[22]

»  Haram dalam pesta pernikahan dan yang lainnya berlebihan dalam makanan, minuman dan pakaian, serta haram memakai alat-alat musik. Dan sungguh akan bergadang segolongan dari umat ini di atas makanan, minuman, dan mainan. Kemudian di pagi harinya mereka telah dirubah bentuk enjadi kera dan babi. Kami memohon keselamatan kepada Allah.

عن عمران بن حصين رضي الله عنه أن رسول الله × قالَ: «في هذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ ومَسْخٌ وَقَذفٌ» فقالَ رَجُلٌ من المُسلمينَ: يا رسُولَ الله ومَتَى ذَاكَ؟ قالَ: «إذا ظَهَرتِ القَيْنَاتُ والمَعازِفُ وَشُربتِ الخُـمُورُ». أخرجه الترمذي

Dari Imran Ibnu Husain radliyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Di Ummat ini ada pembenaman, pengrubahan bentuk dan pelemparan batu (dari atas)” seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata: “Wahai Rasulullah, kapan itu terjadi ?” beliau berkata: “Bila muncul banyak biduan (penyanyi wanita) dan alat musik serta khamr diminum” (HR. At Tirmidzi).[23]

»  Boleh ‘arus (mempelai wanita) menyiapkan jamuan kepada tamu undangan bila dia berhijab dan aman fitnah.

عن سهــل بن سعــــد قــــال: دَعَا أَبُو أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ رَسُولَ الله × فِي عُرْسِهِ، وَكَانَتِ امْرَأتُـهُ يَوْمَئِذٍ خَادِمَهُـمْ وَهِــيَ العَرُوسُ، قَالَ سَهْلٌ: تَدْرُونَ مَا سَقَتْ رَسُولَ الله ×؟ أَنْقَعَتْ لَـهُ تَـمَـرَاتٍ مِـــنَ اللَّيْلِ فَلَـمَّا أَكَلَ سَقَتْـهُ إيَّاهُ. متفق عليه

Dari Sahl Ibnu Sa’ad berkata: “Abu Usaid As Sa’idiy mengundang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pada pernikahannya, dan pada saat itu isterinya melayani (penghidangan makanan) mereka padahal dia itu ‘arus. Sahl berkata: “Kalian tahu minuman yang dia hidangkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam?, dia membuatkan baginya minuman sari kurma dari sejak malam, kemudian tatkala beliau selesei makan maka dia menuangkan minuman itu baginya” (Muttafaq’alaih).[24]

»  Penyiaran Pernikahan:

Disunnahkan menyiarkan pernikahan, dan boleh bagi wanita menyiarkan di dalam penikahan itu dengan menabuh rebana saja dan dengan senandung yang mubah yang di dalamnya tidak ada penuturan kecantikan dan kemolekan serta tidak ada penyebutan hal-hal yang porno dan yang serupa itu.

»  Tidak boleh ikhtilat (campur baur) laki-laki dengan wanita di dalam pesta perkawinan dan yang lainnya, dan tidak boleh suami menemui isterinya di tengah wanita-wanita yang membuka wajah dan yang lainnya.

»  Tidak boleh nyanyian yang menuturkan keelokan wanita dan rambut mereka, dan haram menggunakan alat-alat mainan seperti gitar, seruling dan musik di dalam pernikahan dan acara lainnya.

عن أبي عامر الأشعري رضي الله عنه أنه سمع النبي × يقول: «لَيَكُونَنَّ مِنْ أمَّتِي أقْوامٌ يَسْتَـحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ وَالخَـمْرَ وَالمَعازِفَ». أخرجه البخاري معلقاً وأبو داود

Dari Abu Amir Al Asy’ariy radliyallahu’anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Sungguh akan ada dari ummatku kaum-kaum yang menganggap halal zina, sutera, khamr, dan alat musik”. (HR. Al Bukhari dan Abu Dawud).[25]

»  Hukum mengabil foto:

Haram menggambar segala yang bernyawa dan haram juga memajang gambar di dinding, baik dua dimensi maupun tiga dimensi, baik lukisan maupun tonjolan, lukisan tangan maupun photo[26]. Photo ini tidak boleh kecuali apa yang darurat seperti untuk kedokteran, mengidentifikasi para penjahat dan yang serupa itu, maka boleh untuk kebutuhan.

»  Haram memphoto pesta perkawinan, baik laki-laki maupun kedua-duanya, dan lebih dahsyat dan lebih buruk dari itu adalah merekamnya dengan video, dan lebih busuk dari itu adalah menjualnya di pasaran dan mempertontonkannya kepada manusia.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله × قال: «إنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُـونَ هَــذِهِ الصُّــوَرَ يُـعَذَّبُــونَ يَـوْمَ القِيَامَــةِ، يُـقَــالُ لَـهُـمْ: أَحْيُــوا مَا خَلَقْتُـمْ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar radliyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kalian ciptakan”. (Muttafaq’alaih)[27].

»  Haram bagi wanita mencabuti bulu alis, memakai rambut palsu, menyambung rambut dan bertato, mengikir gigi supaya renggang. Haram juga dansa dengan pria, memanjangkan kuku lebih dari empat puluh hari karena ia menyelisihi fithrah, memakai pakaian pria, mengenakan gaun ketenaran dan kesombongan, dan segala yang berlebihan.

»  Boleh bagi pria melenyapkan bulu badannya dari punggung, dada, dua betis dan paha bila tidak membahayakan badannya dan dia tidak beraksud menyerupai wanita.

»  Wanita boleh memakai mas dan sutera, dan hal itu haram terhadap pria. Dan boleh mewarnai kuku wanita dengan apa yang tidak menghalangi sampainya air seperti pacar dan yang lainnya. Dan haram tasyabuh dengan wanita-wanita kafir, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu.

»  Wanita tidak boleh memakai celana panjang walaupun di hadapan wanita karena ia menampakkan bentuk-bentuk badan dan juga itu tasyabuh dengan pria dan tasyabuh dengan wanita-wanita kafir. Juga haram mencat rambutnya dengan wanrna merah atau kuning atau biru, karena ia menyerupai wanita-wanita kafir dan mendatangkan fitnah. Adapun mempikok uban, maka ia boleh dengan pacar atau inai. Memakai sendal atau sepatu yang berhak tinggi adalah haram karena ia termasuk tabarruj yang telah Allah larang, dan wanita dilarang dari mengenakan cadar dan purdah karena hal itu jalan untuk memperluas diri dalam apa yang tidak boleh, dan memang itu sudah terjadi.[28]

Hak-Hak Suami Isteri

»  Pernikahan Itu memiliki adab-adab dan hak-hak dua pihak: yaitu masing-masing dari suami isteri menunaikan hak-hak bagi pasangannya serta memperhatikan kewajiban-kewajiban baginya supaya terealisasi kebahagiaan, kehidupan jernih  dan keluarga tenang nyaman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٢٢٨)

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS. Al Baqarah [2]: 228).

»  Hak isteri atas suami:

Suami wajib menafkahi isterinya dan anak-anaknya dan konsekwensi lainnya berupa pakaian dan tempat tinggal sesuai hal yang ma’ruf (hal yang wajar). Dia juga wajib berjiwa baik, bergaul baik lagi baik dalam menemani mereka, dia mempergauli isteri dengan lemah lembut, halus dan ceria, dia santun bila isteri marah dan membuatnya ridla bila ia kesal, dia sabar memikul gangguan darinya, dia memperhatikan pengobatannya bila ia sakit, membantunya dalam mengurusi pekerjaan rumahnya, memerintahkannya untuk mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang haram, dia mengajarinya agama bila ia jahil atau lalai, tidak membebaninya apa yang ia tidak sanggup, tidak menghalanginya dari apa yang ia minta berupa hal yang mungkin atau mubah, dan menjaga kehormatan keluarganya serta tidak menghalanginya dari mereka.

»  Suami boleh istimta’ (bersenang-senang menggauli) isterinya dengan apa yang mubah kapan saja dan bagaimana saja selama tidak membahayakan isteri atau menyibukannya dari yang wajib.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي × قال: «.. وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْراً، فَإنَّـهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإنَّ أعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أعْلاهُ، فَإنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَـهُ، وَإنْ تَرَكْتَـهُ لَـمْ يَزَلْ أعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْراً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Baik-baiklah terhadap wanita karena sesungguhnya bagian yang paling bengkok dalam tulang rusuk adalah bagian atasnya, di mana bila kamu meluruskannya maka kamu mematahkannya, dan bila kamu membiarkannya maka ia senantiasa bengkok, maka baik-baiklah terhadap wanita” (Muttafaq’alaih)[29]

»  Hak-hak suami atas isterinya

Isteri wajib menemani suaminya, merapihkan rumahnya, mengatur tempat tingalnya, mendidik anak-anaknya, tulus kepadanya, menjaga kehormatan suaminya pada dirinya (isteri), hartanya dan rumahnya. Dia wajib menyambutnya dengan wajah ceria dan berseri-seri, berhias untuknya, menghormatinya, memuliakannya, dan mempergaulinya dengan cara terbaik, menyediakan baginya sebab-sebab ketenangan dan membuatnya gembira supaya dia mendapatkan di rumahnya kebahagiaan dan ketentraman.

Dia wajib mentaatinya selain dari maksiat kepada Allah, dia menghindari apa yang membuatnya marah, tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izinnya. Tidak menyebarkan rahasianya, tidak bertindak pada hartanya kecuali dengan izinnya. Tidak memasukan ke dalam rumahnya kecuali orang yang disukai suaminya, wajib menjaga kehormatan keluarga suaminya serta membantunya sebisa mungkin disaat dia sakit atau lemah.

»  Dan dengan ini kita mengetahui bahwa wanita di rumahnya menunaikan bagi suaminya dan masyarakatnya tugas-tugas yang besar yang tidak lebih kecil dari pekerjaan suami di luar rumah, sehingga orang-orang yang ingin mengeluarkan wanita dari rumahnya, maka mereka itu telah tersesat dari mengetahui kepentingan-kepentingan dien dan dunia dengan ketersesatan yang jauh, dan menyesatkan orang lain sehingga rusaklah masyarakat-masyarakat mereka.

»  Keutamaan ketaatan isteri kepada suaminya selain dalam maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dari Abdurrahman Bin Auf radliyallahu’anhu berkata: Berkata Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Bila wanita shalat lima waktu, shaum bulan (Ramadhan)nya, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: “Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu sukai” (HR. Ahmad)[30]

»  Haram menahan hak pasangannya, dan (haram) merasa terpaksa memberikannya, juga mengungkit-ungkit serta menyakiti.

»  Suami haram menggauli isterinya pada saat haid sampai ia suci, bila ia menggaulinya di awal haid maka ia wajib bersedekah satu dinar, dan bila menggaulinya saat darah sudah berhenti (tapi belum mandi) maka wajib setengah dinar (1 dinar = 4,25 gram mas).

»  Haram menggauli isteri pada duburnya, dan Allah tidak melihat kepada laki-laki yang  menggauli isteri pada duburnya. Dubur adalah tempat kotoran.

»  Bila wanita sudah suci dari haid dan darah sudah berhenti darinya maka suami boleh menggauli setelah ia mandi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al Baqarah [2]: 222).

»  Suami boleh memaksa isteri untuk mandi dari haid, membersihkan najis dan memotong apa yang dirasa jijik oleh jiwa seperti rambut (kemaluan) dan yang lainnya.

» Bila suami menggauli isterinya, bila ternyata air mani suami lebih dahulu maka anak menyerupai dia, dan bila air wanita ada di atas maka menjadi perempuan dengan izin Allah Ta’ala.

»  Boleh ‘azl bagi pria (yaitu menumpahkan air mani di luar rahim), namun tidak melakukannya adalah lebih utama, karena ‘azl itu mengurangi kenikmatan wanita dan menghilangkan banyaknya keturunan yang mana ia adalah masuk tujuan nikah.

»  Boleh karena diudzur atau kebutuhan membuang nuthfah (sel telur yang sudah dibuahi) selama empat puluh hari dengan memakai obat yang mubah, dengan syarat izin suami dan tidak membahayakan isteri. Dan tidak boleh menggugurkannya karena khawatir dari banyak anak atau karena tidak mampu dari menghidupinya atau mendidiknya.

»  Haram bagi suami menggabungkan dua isteri atau lebih dalam satu rumah kecuali dengan kerelaan mereka, dan tidak boleh safar dengan salah satunya kecuali dengan qur’ah (diundi), dan barangsiapa memiliki dua isteri terus dia cenderung kepada salah satunya maka dia datang di hari kiamat dengan badannya miring.

»  Sifat adil di antara isteri-isteri:

Suami wajib adil di antara isteri-isterinya di dalam membagi jatah gilir di dalam masalah menginap di malam hari, nafkah dan tempat tinggal. Adapun  jima’, maka tidak wajib, namun bila mungkin maka dianjurkan, dan tidak ada dosa dalam hal kecenderungan hati, karena hal ini tidak dia miliki.

»  Sunnahnya bila pria menikahi gadis (perawan) sedangkan sudah memiliki isteri yang lain adalah dia menetap padanya tujuh malam, terus dia kembali bergilir. Dan bila dia menikahi janda maka dia menetap padanya tiga (malam) terus kembali menggilir, dan bila (wanita ini) ingin tujuh hari (malam) maka dia (suami) melakukannya dan dia mengqadla waktu yang sama bagi isteri-isterinya yang lain, kemudian setelah itu ia membagi gilir satu malam bagi masing-masing.

عن أم سلمة رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ الله × لَـمَّا تَزَوَّجَ أُمَّ سَلَـمَةَ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلاثاً وَقَالَ: «إنَّـهُ لَيْسَ بِكِ عَلَى أَهْلِكِ هَوَانٌ، إنْ شِئْتِ سَبَّعْتُ لَكِ، وَإنْ سَبَّعْتُ لَكِ سَبَّعْتُ لِنِسَائِي». أخرجه مسلم

Dari Ummu Salamah radliyallahu’anha bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tatkala menikahinya menetap padanya tiga (malam) dan berkata: “Sesungguhnya tidak ada keberatan bagimu atas keluargamu (suamimu), bila kamu mau maka aku memberi tujuh bagimu, dan bila aku memberimu tujuh (malam) maka aku memberi tujuh (malam) bagi isteri-isteriku yang lain”(HR. Muslim)[31]

»  Isteri yang gadis adalah asing terhadap suaminya dan asing atas meninggalkan keluarganya maka ia butuh kepada tambahan (waktu) untuk perkenalan (kondisi) dan untuk menghilangkan rasa asing, beda halnya dengan janda.

»  Isteri yang menghibahkan harinya bagi isteri yang lain dengan izin suaminya atau (menghibahkannya) bagi suaminya terus dia menjadikannya bagi isteri yang lain adalah boleh.

»  Orang yang memiliki beberapa isteri boleh masuk mendatangi isteri yang bukan gilirannya di hari itu dan mendekat darinya tanpa jima’ serta memeriksa keadaan-keadaannya, kemudian bila datang malam maka ia kembali kepada pemilik jatah gilirnya dan dia mengkhususkannya dengan malam.

»  Bila isteri safar tanpa izin suaminya atau ia menolak safar bersama suaminya atau menolak bermalam bersama suaminya di tempat tidur (suami)nya maka tidak ada jatah gilir baginya dan tidak ada nafkah untuknya, karena itu maksiat seperti wanita yang nusyuz.

»  Disunnahkan bagi suami yang bepergian jauh agar tidak pulang mendadak mengagetkan isterinya, namun dia seyogyanya memberitahu mereka waktu kepulangannya supaya dia disambut isterinya dalam keadaan penampilan yang indah, dan supaya ia punya kesempatan menyisir rambutnya dan memotong rambut kemaluannya.

»  Hukum bersalaman dengan wanita ajnabiyyah (bukan isteri dan bukan mahram): Wanita ajnabiyyah yang haram bersalaman atau berkhalwat dengannya adalah wanita yang bukan isteri dan bukan mahram baginya. Sedangkan mahram adalah: orang yang haram dinikahi selamanya baik dengan sebab kekerabatan atau susuan atau mushaharah.

»  Saudara-saudara suami atau saudara-saudara bapaknya atau saudara-saudara ibunya atau saudara-saudara sapupunya tidak boleh menyalami isteri-isteri, saudara-saudara mereka atau saudara-saudara bapaknya atau saudara-saudara ibunya atau saudara-saudara sepupunya, sebagaimana wanita ajnabiyyah lainnya, karena saudara itu bukan mahram bagi isteri saudaranya, dan begitu juga yang lalu.

»  Tidak boleh seseorang menyalami wanita ajnabiyyah darinya, dan lebih parah dari itu adalah menciumnya, baik ia pemudi maupun lanjut usia, dan baik yang menyalaminya itu pemuda ataupun lanjut usia, baik dengan penghalang maupun tidak berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

«إنِّي لا أُصَافِحُ النِّسَاءَ». أخرجه النسائي وابن ماجه

“Sesungguhynya aku tidak menyalami wanita”. (HR. An Nasai dan Ibnu Majah)[32]

»  Wanita muslimah haram menyalami pria ajnabi darinya, dan haram juga naik mobil sendirian bersama seorang pria ajnabi seperti sopir.

» Suami isteri haram bersenggama dilihat orang lain dan haram membuka rahasia yang berkaitan dengan jima’ di antara mereka berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk di sisi Allah kedudukannya di hari kiamat adalah pria yang menggauli isteri dan bersenggama dengannya dan terus dia membuka rahasianya”. (HR. Muslim)[33]

»  Isteri haram menolak bila di ajak suaminya ke tempat tidur:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ×: «إذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَـهُ إلَى فِرَاشِهِ فَلَـمْ تَأْتِـهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْـهَا، لَعَنَتْـها المَلائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ». متفق عليه

Dari abu Hurairah radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Bila seorang laki-laki mengajak isterinya ke tempat tidurnya namun ia tidak mendatanginya, kemudian dia tidur dalam keadaan marah terhadapnya, maka ia dilaknati oleh malaikat sampai pagi”. (Muttafaq’alaih)[34]

»  Hukum safar wanita tanpa mahram

Haram atas wanita safar tanpa mahram, baik di mobil atau di pesawat udara atau kapal laut atau kereta atau yang lainnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

«لا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلا مَعَ ذِي مَـحْرَمٍ، وَلا يَدْخُلُ عَلَيْـهَا رَجُلٌ إلا وَمَعَهَا مَـحْرَمٌ». متفق عليه

“Janganlah wanita safar kecuali bersama mahram, dan jangan seorang pria masuk kepadanyakecuali ada mahramnya”. (Muttafaq’alaih)[35]

»  Sifat hijab syar’iy:

  1. Hijab syar’iy wajib atas setiap muslimah yang baligh, yaitu menutupi (menghijabi) segala yang menarik bagi pria dengan memandang kepadanya seperti wajah, telapak tangan, rambut, leher, telapak kaki, betis, lengan, dan yang lainnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا (٥٣)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah”. (QS. Al Ahzab [33]: 53)

  1. Wanita tidak boleh ikhtilat (berbaur) dengan pria ajnabi (asing/bukan suami dan mahram) di tepat kerja, sekolah, rumah sakit, dan yang lainnya, sebagaimana ia haram tabarruj dan menampakkan kecantikan dan kemolekannya kepada selain suaminya, karena hal itu menimbulkan fitnah.
  2. Wanita boleh berhijab dari orang (pria) yang bukan mahram baginya, seperti suami saudaranya, saudara-saudara sepupunya dan yang lainnya yang bukan mahram baginya.

»  Hukum mengkonsumsi apa yang mencegah kehamilan:

  1. Keturunan adalah nikmat yang agung yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya, dimana Islam menganjurkan dan menyemangati kepadanya, maka tidak boleh membatasi keturunan secara mutlak dan tidak boleh mencegah kehamilan bila maka tidak boleh membatasi keturunan secara mutlak dan tidak boleh mencegah kehamilan bila maksud dari hal itu adalah khawatir miskin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (QS. Al Israa’ [17]: 31)

  1. Haram memutus total kemampuan untuk memiliki keturunan pada laki-laki dan perempuan, yaitu dikenal dengan sebutan i’qam (tubektomi dan pasektomi) kecuali karena bahaya yang meyakinkan.
  2. Boleh bagi wanita dengan ridla suaminya mengkonsumsi apa yang mencegah kehamilan karena bahaya yang meyakinkan, umpamanya si wanita tidak melahirkan dengan persalinan yang normal atau dia sakit yang bahaya baginya bila hamil tiap tahun, maka tidak apa kalau seperti itu dari mencegah kehamilan atau menangguhkannya bila suami isteri itu rela dengan hal itu dan dengan cara yang disyari’atkan yang tidak ada bahaya di dalamnya terhadap si wanita, dan hal itu diputuskan oleh dokter yang terpercaya.

»  Hukum bayi tabung:

  1. Bila isteri hamil dari sel telur dan sperma yang kedua-duanya milik orang lain, atau dari sel telur miliknya dan sperma pria lain maka ini adalah hamil zina yang haram secara syar’iy.
  2. Bila isteri hamil dari sperma suaminya setelah putusnya akad pernikahan dengan kematian atau thalaq maka ini haram.
  3. Bila sperma dan sel telur (ovum) dari pasangan suami isteri, sedangkan rahimnya adalah milik wanita asing yang dipinjam, maka ini haram juga.
  4. Bila sperma dan sel telur dari pasangan suami isteri dalam rahim isteri dia yang lain dengan pembuahan di dalam atau di luar maka ini haram juga.
  5. Bila sperma dan sel telur dari pasangan suami isteri di dalam rahim isteri pemilik sel telur dengan pembuahan di dalam atau di luar di dalam tabung kemudian dipindah ke rahim si isteri itu juga, maka ini diliputi sejumlah bahaya dan hal terlarang, maka dibolehkan bagi orang yang pada posisi darurat, sedangkan itu diambil sekedarnya saja. Dan wajib atas orang mukalaf bila mendapat ujian ini untuk bertanya kepada orang yang dia percayai agamanya dan ilmunya.

»  Laki-laki dan perempuan bila sempurna normal anggota tubuhnya, tidak halal mengalihkan salah satunya kepada jenis (kelamin) yang lain, dan upaya pengalihan (jenis kelamin) ini adalah kejahatan yang pelakunya berhak mendapatkan hukuman, karena ia adalah pengrubahan tanda-tanda ciptaan Allah, sedang ia itu haram.

» Orang yang terkumpul pada anggota tubuhnya tanda-tanda wanita dan pria, maka dilihat: bila sifat pria lebih dominan terhadapnya maka boleh mengobatinya dengan apa yang bisa melenyapkan ciri kewanitaannya baik dengan operasi bedah maupun hormon.

»  Kehamilan wanita:

  1. Setiap bulan wanita mengeluarkan sebuah sel telur dengan ketentuan Allah, dan kemudian bila datang waktu taqdir dan sperma membuahi sel telur itu, maka menyatulah sel telur dengan sperma itu dan hamillah si wanita itu, dan ia adalah nuthfah amsyaj (mani yang bercampur).
  2. Seringnya wanita melahirkan seorang anak saja di setiap tahun, dan kadang melahirkan kembaran dua laki-laki atau dua permempuan atau laki-laki dan perempuan, dan kadang melahirkan tiga atau lebih. Dan kembaran itu ada dua macam:

Pertama: terjadi dari satu sel jantan dan dua sel telur yang terjadi dari keduanya dua kembaran yang persis serupa.

Kedua: kembaran yang tidak serupa, dan itu terjadi dengan ketentuan Allah dari dua sel jantan yang membuahi dua sel telur, masing-masing membuahi satu sel telur. Wallahu a’lam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat”. (QS. Al Insan [76]: 2)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

uqèd هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٦)

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali Imran [3]: 6)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (٤٩)أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٥٠)

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”(QS. Asy Syuraa [42]: 49-50)

Nusyuz Dan Penanggulangannya

»  Nusyuz adalah pembangkangan isteri kepada suaminya dalam kewajibannya (isteri).

»  Jiwa itu ditabi’atkan di atas sifat tidak suka memberi apa yang wajib atasnya dan sifat ambisi terhadap apa yang menjadi haknya. Dan di antara yang memudahkan shulh (upaya damai) adalah mencabut perilaku buruk ini dan menggantinya dengan lawannya yaitu murah hati dengan memberikan hak yang telah menjadi kewajiban, dan qanaah (merasa cukup) dengan sebagiannya menjadi hakmu sehingga dengan hal itu segala urusan menjadi baik.

»  Cara menanggulangi wanita nusyuz:

Bila nampak dari wanita tanda-tanda nusyuz, seperti umpamanya dia tidak memenuhi ajakan suaminya ke tempat tidur atau untuk jima’ atau dia memenuhinya dengan cemberut terpaksa atau dengan roman tidak suka, maka suami menasehatinya dan mengingatkannya supaya takut kepada Allah ‘Azza Wa Jalla serta memberikan pelajaran dengan cara yang paling ringan dan seterusnya.

Bila dia bersikukuh, maka suami menjauhiya dalam tempat tidur sesuka dia (suami), dan dalam hal bicara selama tiga hari. Namun bila tetap bersikukuh, maka suami memukulnya dengan pukulan yang tidak mencederai maximal sepuluh pukulan. Jangan memukul wajah dan jangan menjelek-jelekannya. Kemudian bila tujuan sudah terlaksana dengan yang lalu dan si isteri kembali taat maka si suami jangan menegur seraya mengungkit-ungkit apa yang telah terjadi dari isterinya di hari-hari yang lalu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)

 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka, kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS. An Nisaa’ [4]: 34)

»  Bila masing-masing dari pasangan suami isteri mengklaim saling menuduh pasangannya aniaya kepada dia, dan si wanita bersikukuh di atas nusyuznya, pembangkangannya dan perlakuan buruknya, dan sulit islah di antara keduanya maka hakim mengutus (juru damai) dari keluarga si isteri dan hakam dari keluarga suami, dan keduanya melakukan apa yang paling maslahat, baik itu penyatuan maupun pemisahan, dengan kompensasi maupun tidak.

»  Bila hakam itu tidak sepakat atau keduanya tidak ada, sedangkan hubungan rumah tangga dengan baik antara suami isteri itu sudah sangat sulit, maka hukum meninjau urusan mereka berdua ini dan dia memfasakh (membatalkan) pernikahan sesuai apa yang dipandangnya tepat menurut syar’iy dengan ganti (kompensasi) ataupun tidak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS. An Nisaa’ [4]: 35)

» Bila isteri merasakan dari suaminya sikap menjauh dan keberpalingan dan dia khawatir suami meninggalkannya, maka dia boleh menggugurkan haknya atau sebagiannya dari suaminya baik itu mabit (gilir) atau nafkah atau pakaian atau yang lainnya. Dan suami boleh menerima hal itu darinya, serta tidak ada dosa atas keduanya. Dan ini lebih utama dari perpisahan, percekcokan, dan berbantah-bantahan tiap hari. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An Nisaa’ [4]: 128).

_________________________________

[1]    Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 5066, dan lafadz adalah milik Muslim: 1400

[2]    Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 5090, dan Muslim: 1466

[3]    Muslim: 1467

[4]    Ini contoh kontradiksi, wallahu’alam mungkin yang dimaksud adalah mu’tala’ah (wanita yang khulu) dimana itu adalah ba’in, dan ini adalah salah cetak.(pent)

[5]    Al Bukhari: 5136, Muslim: 1419

[6]    Al Bukhari: 5138

[7]    Shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud: 1866, dan Ibnu Majah: 1905, dan ini teksnya Shahih Sunan Ibnu Majah

[8]    Hdits hasan, Abu Dawud: 2160, dan ini teksnya Shahih Sunan Abu Dawud: 1892, Ibnu Majah: 2252, Sahih Sunan Ibnu Majah: 1825

[9]    Muttafaq’alaih

[10]  Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 250, dan Muslim: 319 dan ini teksnya.

[11]   Begitu juga walau dia shalat tapi menjadi kafir dengan sebab menjadi anggota parlemen demokrasi, hakim, jaksa, tentara, polisi, intelejen, dan anshar hukum thaghut lainnya(pent.)

[12]   Karena keduanya kafir keduanya kafir, sedangkan pernikahan kafir adalah sah(Pent.)

[13]  Muttafaq’alaih / Al Bukhari: 5112 dan ini teksnya. Dan Muslim (1415).

[14]   Shahih / Abu Dawud: 2076 dan ini teksnya. Shahih Sunan Abi Dawud: 1827, dan At Tirmidzi: 1119, Shahih Sunan At Tirmidzi: 894

[15]   Muslim: 1406

[16]   Non muslim di sini mencakup kafir asli dan kafir murtad, baik orang murtad yang mengaku agama non Islam dan maupun yang masih engaku Islam tapi dalam pandangan Islam tapi dalam pandangan syar’iy dia itu sudah murtad(pent.)

[17] Di Kitab Zakat bahwa 200 dirham itu 595 gram perak, jadi 500 dirham adalah 1487,5 gram perak.(Pent.)

[18]   Muslim: 1431

[19]   Muslim: 2042

[20]   Muslim: 2055

[21]   Shahih / Abu Dawud: 3854 dan ini teksnya, Shahih Sunan Abi Dawud: 3263, dan Ibnu Majah: 1747, Shahih Sunan Ibni Majah: 1418.

[22]   Muslim: 1403

[23]   Shahih / At Tirmidzi: 2212, Shahih Sunan At Tirmidzi: 1801

[24]   Muttafaq’alaih, Bukhari: 5170 dan ini teks baginya. Muslim: 2006

[25]   Shahih Bukhari secara ta’liq: 55 dan teks baginya, lihat silsilah Ash Shahih: 91 dan dimaushulkan oleh Abu Dawud: 4039, Shahih Sunan Abu Dawud: 3407

[26]   Masalah pengambilan photo ada perselisihan.(pent.)

[27]   Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 595 dan teks baginya. Dan Muslmi: 2108

[28]   Karena cardar dan purdah di sana menampakan lebar bagian wajah sehingga tidak memenuhi perintah syar’iy untuk menutup wajah wanita.(Pent.)

[29]   Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 5186 dan ini teksnya, dan Muslim: 1468

[30]   Shahih, Ahmad: 1661. Lihat Az Zifaf milik Al Albaniy hal: 182 dan Shahih Al Jami’: 660

[31]   Muslim: 1460

[32]   Shahih, An nasai: 4181. Shahih Sunan An Nasai: 3897 dan Ibnu Majah: 2874, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2323

[33]   Muslim: 1437

[34]   Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 3237. Dan Muslim: 1436 dan teks miliknya.

[35]   Muttafaq’alaih, Al Bukhari: 1862 dan teks ini miliknya. Dan Muslim: 1341

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 30, 2013 in fiqih

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s