RSS

Penyebab kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani

03 Des

Ibnu Taimiyah menyatakan: “Kekafiran kaum Yahudi
berpangkal dari sikap tidak mau melaksanakan hal-hal
yang telah mereka ketahui. Mereka tidak mau mengamalkan
kebenaran dan tidak mau mengikutinya, baik dalam ucapan
maupun perbuatan.”

Kekafiran kaum Nasrani berpangkal dari sikap mereka
yang suka beramal tanpa ilmu. Mereka suka melakukan
berbagai macam ibadah yang tidak ada tuntunannya dari
syari‘at Allah, mereka suka berdusta atas nama Allah atas halhal
yang tidak mereka ketahui. Dalam hal ini, Sufyan bin
‘Uyainah salah seorang kaum salaf menyatakan: “Kerusakan
ulama kita serupa dengan kerusakan yang terjadi pada kaum
Yahudi, sedangkan kerusakan kalangan awam kita serupa
yang terjadi pada kaum Nasrani.”

Berkenaan dengan jalan hidup mereka, Allah telah
memperingatkan kita sebagaimana pada hadits-hadits berikut:

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah  bersabda:
‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum
kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk
ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke
dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah,
apakah kaum Yahudi dan Narsani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Kiamat tidak
akan terjadi sampai umatku mengikuti apa yang terjadi pada
kurun-kurun sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta
demi sehasta.” Lalu ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah,
seperti bangsa Parsi dan Romawi?” Sabda beliau: “Manusia
siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi SAW memberitahukan bahwa di tengah umatnya akan
ada orang-orang yang meniru perilaku kaum Yahudi dan
Nasrani, dan ada juga yang meniru orang ‘ajam (asing), yaitu
bangsa Parsi dan Romawi, padahal Nabi SAW sejak awal telah
melarangnya. Namun pada riwayat tersebut tidak menyatakan
bahwa seluruh umatnya akan berbuat demikian. Pada riwayat
yang populer disebutkan bahwa, beliau bersabda:

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap membela
kebenaran sampai terjadi kiamat.” (HR. Hakim dari ‘Umar bin
Khathab. Rawi-rawi hadits ini dipakai juga oleh Muslim. Hal
ini dikukuhkan oleh Imam Dzahabi. Hadits yang semakna
dengan hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.)

Nabi SAW juga bersabda:
“Sungguh Allah tidak akan menyatukan umat ini dalam
kesesatan.” (HR. Tirmidzi, dan dinilai hasan oleh Imam Suyuthi)

Dan sabda beliau:
“Sungguh Allah selalu menanamkan di dalam agama ini halhal
yang menjadikan mereka (kaum muslim) melaksanakan
agama ini dengan ketaatan kepada agamanya.” (HR. Ahmad
dan Ibnu Majah).

Dari beberapa hadits di atas dapat dipahami bahwa sudah
pasti di kalangan umat Islam ini ada kaum yang tetap
berpegang teguh kepada hidayah Allah, yaitu Islam yang
murni. Namun terdapat pula kaum yang menyimpang, yaitu
mengikuti sebagian dari ajaran agama Yahudi atau Nasrani,
sekalipun penyimpangan mereka tidak sampai menyebabkan
mereka menjadi kafir atau fasiq. Akan tetapi penyimpangan
mereka kadang sampai menjadikan mereka kafir, fasiq,
berdosa atau mungkin hanya bersalah.

Perbuatan menyimpang semacam ini merupakan hal yang
bersifat naluriah karena syetan menampakkan perbuatan ini
di hadapan pelakunya sebagai perbuatan baik. Oleh karena
itu, para hamba Allah diperintahkan untuk terus menerus
memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dengan
hidayah-Nya, sehingga tidak bersikap seperti kaum Yahudi
dan tidak pula seperti kaum Nasrani

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 3, 2013 in aqidah, fiqih

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s