RSS

Al ‘Urwah Al Wutsqa

03 Jan

Tauhidullah Adalah Haq Allah Terhadap Hamba-Hamba-Nya
(Al ‘Urwah Al Wutsqa)

syeikh 'ashim al-maqdisi
Ketahuilah olehmu –semoga Allah merahmatimu–, bahwa hal paling pertama yang Allah fardhukan terhadap semua hamba untuk mempelajari dan mengamalkannya sebelum shalat, zakat, shaum, hajji dan segala hal fardhu lainnya, adalah TAUHID. Allah ta’ala berfirman:
“Maka ketahuilah! Bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Dan bahwa pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menciptakan mereka kecuali untuk merealisasikan hal yang agung ini. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56)
Yaitu supaya mereka mentauhidkan-Ku (mereka mengabdi/beribadah hanya kepada-Ku saja). Dan ia adalah makna Laa ilaaha illallah, di mana ia bermakna bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah saja.
Dan bahwa ia adalah tujuan yang karenanyalah diutus para Rasul. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu!” (QS. An Nahl 36).

Dan firman-Nya: “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut!” itu adalah makna kalimat Laa ilaaha illallah. Karena ia meliputi An Nafyu (peniadaan/penghapusan/pembuangan/ penolakan terhadap semua macam sesembahan/tempat pengabdian) dan Al Itsbat (penetapan, yaitu penetapan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang haq dan berhak menjadi ilah/sesembahan tempat tercurahnya segala bentuk ibadah dan pengabdian dan ketaatan para hamba). Di mana (yang menunjukkan) nafyu adalah pada kalimat Laa ilaaha, dan (yang menunjukkan) itsbat adalah pada kalimat illallah.
Dan Laa ilaaha (tidak ada ilah yang haq) adalah mengandung makna sikap menjauhi/menolak segala yang diibadahi selain Allah, yaitu Thaghu bila ia ridha dengan peribadatan tersebut; dan illallah (kecuali hanya Allah saja) adalah mengandung makna penetapan bahwa segala ibadah/pengabdian/ketaatan hanyalah kepada Allah saja satu-satunya. Dan untuk merealisasikan kalimat syahadat yang agung ini maka harus lengkap menggabungkan sekaligus antara nafyu dan itsbat. Karena jika hanya nafyu saja, itu adalah kekafiran dan ta’thil (pengguguran/pengosongan/penghapusan) adanya ilah/sesembahan. Namun jika hanya itsbat saja tanpa adanya nafyu, maka itu adalah tidak mencukupi karena ia bisa memungkinkan terkandungnya keimanan (pengakuan) kepada sesembahan-sesembahan lain selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga jika hamba menggabungkan relisasi antara Nafyu dan Itsbat sekaligus maka bermakna ia hanya beribadah kepada Allah saja satu-satunya dan ia berlepas diri (menolak, menjauhi, mengingkari, menentang, antipati) kepada segala sesembahan yang diibadati selain Allah. Maka baru dengan sikap begitulah ia merealisasikan tauhid yang dibawa oleh semua Rasul. Allah ta’ala berfirman:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada sesembahan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertaqwa kepada-Ku” (QS. An Nahl: 2)
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasannya tidak ada ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah (ibadahilah) Aku!” (QS.Al Anbiya: 25)
Dan dalam As Sunnah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesuatu yang paling utama yang diucapkan oleh aku dan para Nabi sebelumku adalah Laa ilaaha illallah” (HR. Al Bukhari)
Dan karena sebab tujuan yang paling agung ini terjadilah pertentangan antara para Rasul dengan kaum-kaum mereka, dan di dalamnya terjadilah perseteruan, al wala, al bara’, kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan. Dan karenanya banyak para nabi dibunuh dan disakiti, serta karenanya para sahabat disiksa dan diintimidasi di Mekkah sebelum diwajibkan shalat, zakat, hajji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Allah ta’ala berfirman:
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shaad: 4-5)
Firman Allah ta’ala tentang ucapan kaum musyrikin dalam hal pengingkaran mereka terhadap urusan terbesar yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja?” adalah juga menunjukkan makna dari ungkapan di ayat lain, “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu!, dan ia adalah makna Laa ilaaha illallah.
Dan inilah Al ‘Urwah Al Wutsqa yang Allah telah menjamin bagi hamba-hamba-Nya bila mereka berpegang teguh padanya, bahwa ia tidak akan putus, dan keselamatan tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh padanya. Allah ta’ala berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus” (QS.Al Baqarah 256).
Firman-Nya: ‘Barangsiapa kafir kepada thaghut’ adalah wujud penafiyan yang dikandung/dimaksud oleh Laa ilaaha. Dan firmanNya “dan beriman kepada Allah” adalah itsbat yang dikandung/dimaksud oleh illallah.
Al ‘Urwah Al wutsqa (buhul tali yang sangat kokoh kuat) yang mana seseorang tidak akan selamat kecuali dengan berpegang teguh kepadanya adalah Laa ilaaha illallah.
Dan itu dikarenakan, sesungguhnya buhul tali keimanan itu sangat banyak, sedangkan manusia ada yang memegang itu seluruhnya atau sebagiannya. Ada yang memegang buhul tali shalat saja, ada yang memegang buhul tali shadaqah dan amal-amal kebaikan saja, akan tetapi hal itu semuanya tidak cukup untuk keselamatan tanpa al ‘urwah al wutsqa. Jadi tidak ada keselamatan selamanya kecuali bila al ‘urwah al wutsqa yang agung ini (Laa ilaaha illallah) terealisasi sebelum buhul-buhul tali iman lainnya. Karena tanpa al ‘urwah al wutsqa maka buhul-buhul tali iman yang lain itu tidak akan diterima. Oleh karena itu, Fir’aun sesungguhnya ketika menyaksikan kebinasaannya dan ia tenggelam maka ia tidak memegang atau berlindung kecuali dengannya, akan tetapi hal itu terjadi setelah keadaannya terlambat. Allah ta’ala berfirman:
“Hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil (yakni Allah), dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90).
Dan karena agungnya posisi tauhid ini maka sungguh telah sah dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seandainya langit dan bumi seluruhnya ditaruh di satu sisi timbangan, dan Laa ilaaha illallah di sisi yang lain, tentulah Laa ilaaha illallah itu lebih berat dari langit dan bumi seluruhnya itu.
Oleh sebab itu tidak ada di sana suatu yang lebih agung dalam menolak bencana daripada tauhid, ini buktinya bahwa do’a saat mengalami kesulitan adalah: [Allah, Allah, Allah adalah Rabb-ku dan aku tidak menyekutukan seorang pun dengan-Nya] dan oleh sebab itu para Nabi –sedanglkan mereka itu adalah orang yang paling mengetahui dan paling paham– mereka itu saat dalam kondisi sulit bersandar pada tauhid dan bertawassul kepada Allah dengannya, karena mereka mengetahui bahwa di sana tidak ada yang lebih agung kedudukannya di sisi Allah dari padanya. Allah ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Yunus ‘alaihissalam:
“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.” Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa 87-88).
Bila Engkau telah memahami apa yang telah lalu, yaitu pentingnya tauhid (laa ilaaha illallah) serta keagungan posisi dan kedudukannya, dan bahwa maknanya adalah mentauhidkan Allah dengan seluruh ibadah, yaitu bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati kecuali Allah, maka wajib atas kamu mempelajari makna ibadah agar kamu bisa mentauhidkannya secara total bagi Allah dan kamu menjauhi peribadatan selain-Nya Subhanahu Wa Ta’ala dengan bentuk ibadah apapun, sehingga kamu merealisasikan tauhid secara sempurna.
Dan begitu juga wajib atas kamu memahami makna syirik yang merupakan lawan tauhid supaya kamu menjauhinya.
Dan ketahuilah sebelum itu, bahwa Laa ilaaha illallah memiliki banyak syarat yang mana ia tidak sah kecuali dengannya, yaitu:
Pertama: Al Ilmu (mengetahui) akan maknanya, baik nafyu maupun itsbat. Allah ta’ala berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadati melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Kedua: Al Yaqin (Keyakinan) yang meniadakan keraguan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling bahagia dengan syafa’at saya di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah seraya tulus dari hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari).
Ketiga: Ash Shidqu (jujur) yang menafikan kebohongan, di mana ia tidak diterima dari orang yang mengucapkannya seraya berdusta, seperti orang-orang munafiq. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa: 145).
Keempat: Al Ikhlash (pemurnian) yang menafikan syirik. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (QS. Al Maidah: 72) dan akan datang penjelasan syirik.

Kelima: Al Mahabbah (mencintai). Yaitu mencintai kalimat ini dan kandungannya.

Keenam: Al Inqiyad (tunduk), yakni tunduk kepada hak-haknya. Wahhab bin Munabih berkata: “Laa ilaaha illallah adalah kunci surga, sedangkan setiap kunci itu memiliki gigi-gigi, dan barangsiapa datang dengan kunci yang memiliki gigi maka dibukakan baginya, dan barangsiapa datang dengan kunci yang tidak memiliki gigi maka tidak akan dibukakan baginya”. Sedangkan gigi-gigi itu adalah hak-hak Laa ilaaha illallah berupa rukun-rukun Islam, kefardhuan-kefardhuannya serta ikatan-ikatan al iman dan konsekuensi-konsekuensinya.

Ketujuh: Menjauhi pembatal-pembatalnya. Dan ia itu sangat banyak. Sedangkan yang paling berbahaya adalah menyekutukan Allah. Dan akan datang penjelasan sebagian pembatal-pembatalnya.
Dan ketahuilah bahwa tauhid ini dinamakan oleh ahli ilmu dengan nama Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah. Dan di sana ada dua macam lain yang disebutkan Ulama, yaitu:
1. Tauhid Rubuubiyyah: yaitu keyakinan bahwa Allah lah yang Menciptakan, Memberi Rizqi lagi Mengatur. Dan ini saja tidak cukup untuk keselamatan, di mana orang-orang kafir Quraisy dahulu mengimaninya, namun demikian mereka tidak menjadi orang Islam dengan sebabnya dan darah atau harta mereka juga tidak terjaga, sampai mereka merealisasikan Tauhid ibadah dan mereka berlepas diri dari tuhan-tuhan mereka yang bathil. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al Ankabut: 61)

2. Tauhid Al Asmaa Wash Shifaat: yaitu engkau mensifati Allah dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi Dzat-Nya, tanpa tasybih, tamtsil, dan tanpa takyif ataupun ta’thil, dan engkau tidak mensifati seorangpun dengan sesuatu dari sifat-sifat-Nya.

SYIRIK: Ketahuilah bahwa dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai adalah syirik. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu.” (QS. An Nisa: 48).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditanya tentang dosa terbesar, maka beliau berkata: “Kamu menjadikan bagi Allah tandingan sedangkan Dialah yang telah menciptakan kamu.” Dan syirik itu menghapuskan seluruh amalan. Allah ta’ala berfirman:
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalan dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).
Dan syirik itu ada dua macam: akbar dan ashghar.

Adapun syirik ashghar: maka ia itu seperti sedikit riya’ dan seperti sumpah dengan selain Allah ta’ala, seperti orang yang sumpah dengan nabi atau dengan ka’bah atau dengan kedudukan atau yang lainnya, maka ini syirik ashghar. Kecuali bila meyakini bahwa yang dijadikan sumpah itulah lebih agung dari Allah, maka ia menjadi syirik akbar. Dan hal itu tampak dari peremehan mereka terhadap sumpah dengan nama Allah serta rasa takut dan khawatir mereka bila disumpahi dengan tuhan-tuhan mereka yang lain.

Adapun syirik akbar maka ia adalah menjadikan bersama Allah sembahan yang lain yang ia sekutukan bersama-Nya dalam macam ibadah apapun dari macam-macam ibadah, di mana ia sujud kepada-Nya atau shalat atau memohon atau mengharap atau takut darinya seperti dia mengharap dan takut dari Allah atau mencintainya seperti kecintaan kepada Allah atau memohon pertolongan kepadanya dalam melenyapkan bahaya dan dalam mendatangkan manfaat dalam suatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, atau mengikutinya dan mentaatinya dalam hukumnya, penghalalan serta pengharaman semua itu adalah syirik kepada Allah Yang Maha Agung. Dan dari ini diketahui bahwa syirik adalah kebalikan tauhid, di mana ia bisa jadi dalam uluhiyah dan bisa jadi dalam bab al asma wa sifat: yaitu dengan cara mensifati Allah dengan sebagian sifat makhluq-Nya. Umpamanya, orang mengatakan Tangan Allah itu seperti tangan makhluq, padahal Allah berfirman seraya mensifati Dzat-Nya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dial ah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11).
Atau mensifati selain Allah dengan sebagian sifat-Nya ta’ala, atau membentuk nama baginya dari nama-nama Allah, sebagaimana kaum musyrikin menamakan ‘Uzza dari (asma Allah) Al ‘Aziz.
Meninggalkan shalat juga termasuk hal-hal yang telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia menjatuhkan pada syirik, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya antara seseorang dengan syirik (Asy Syirk) dan kekafiran (Al Kufri) itu adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim) dalam Kitabul Iman dari Jabir ibnu Abdillah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Saya memohon kepada Allah ta’ala agar melindungi kita dari syirik, karena Dia Ta’ala telah berfirman:
“Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka Allah telah haramkan surga terhadapnya” (QS. Al Maidah: 72).

Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisi
Penjara Qafqafa – Yordania- Rabi Ats Tsaniy 1415 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 3, 2014 in aqidah, Tauhid

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s